WAKTU

WAKTU

Isu besar dalam dunia entrepreneurship adalah produktifitas. Setiap pengusaha harus produktif memanfaatkan waktu, hingga berbagai teori bermunculan menyeruak.

Teori faksi kiri mentok ekstrem menganggap bahwa produktifitas maksimal adalah harga mati. Seven to eleven, kalo bisa kerja dari jam 7 pagi hingga 11 malam, kalo perlu gak tidur, go extra miles.

Teori faksi kanan mentok mati-matian bicara life balance, life harmony, harus ada porsi untuk diri, untuk keluarga, untuk spritual dan untuk society.

Kedua faksi ini ribut bertengkar dalam arena teori produktifitas, gak ada selesainya.

*

Banyak yang menyangka bahwa Saya secara pribadi penganut life balance. Tulisan akhir-akhir ini di FB tentang mari gunakan malam untuk istirahat ditengarai warna dari golongan Life Balance.

Sebenernya Saya juga gak gitu sepakat dengan Life Balance, karena teori ini kadang-kadang juga melanggar kaidah, kerja full berhari-hari, Sabtu dan Ahad untuk keluarga. Di titik ini pun jadi kacau lagi menurut saya.

Maka saya tidak memilih keduanya,

Saya memilih cara Hidup Rasulullah Shallallahu’alaihiwassalam saja, ukurannya jelas dan rahasianya disini : “Tema Waktu”

*

Dalam literatur hadist tidak ada ukuran yang fiks tentang berapa lama waktu untuk kerja, lalu untuk keluarga, lalu untuk diri sendiri, tidak ada ukuran fiks nya.

Tapi Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam menerapkan penerapan tema waktu pada kehidupan beliau. Mengikuti perintah Allah azza wa jalla di surah An Naba,

Wa ja’alna lailan libasan, kami jadikan malam sebagai pakaian. Wa ja’alna naharan ma’asyan, kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.

Maka Nabiullah mencontohkan persiapan aktivitas harian sedari Maghrib, ini hikmah pergantian hari dalam perhitungan kalender Islam hijriyah, pergantian harinya dimulai dari Maghrib.

Maka Nabiullah relatif menghentikan aktivitasnya ketika masuk Maghrib. Beliau shalat Maghrib berjamaah, lalu pulang untuk makan malam, disebagian hadist, lalu kembali lagi untuk shalat Isya berjamaah. Setelah itu beliau sudah di rumah, beristirahat cepat dan bangun cepat.

Ditengah malam Rasulullah shallallahu’alaihiwassalam bangun, para sahabat melakukannya dengan dikurangi sedikit, setengah malam, dua pertiga malam, atau malah sepertiga malam terakhir. Disinilah Rasulullah membangun komunikasi dengan Rabb Nya.

Lanjut Subuh berjamaah hingga Syurq, Rasulullah bertahan di masjid.

Barulah di waktu Dhuha, Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam dan para sahabat memutuskan untuk beraktifitas yang utama. Nabiullah berfokus pada pengajaran Qur’an kepada para sahabat di Masjid Nabawi dan sahabat lainnya bergantian ikut mengaji dan bergantian hari untuk kemudian berdagang atau berusaha lainnya.

Intinya, waktu siang atau an nahar, dijadikan waktu utama untuk bekerja maksimal, informasinya bahkan hanya sampai Zuhur saja. Bahkan sebelum Zuhur Rasulullah sempat tidur siang sejenak. Ulama mencoba mentaksir waktunya, sekitaran 30-45 menit sebelum Zuhur.

Selepas Zuhur, tetap mengerjakan aktivitas utama, tapi sudah aktivitas sekunder. Bukan pengajaran yang berat lagi, bahkan Nabiullah menggunakan bada Zuhur ini untuk inspeksi pasar dan arena latihan fisik Sahabat.

Selepas Ashar tema besarnya networking, Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam mengunjungi sahabatnya, ada yang aqiqah, ada yang minta rumahnya didoakan Rasulullah, ada yang mengundang untuk bertemu.

Dan begitu menjelang Maghrib, Rasulullah sudah menuju peristirahatan istri beliau yang jatah malam nya sedang jatuh pada malam itu.

*

Maka jika melihat cara hidup Rasulullah ini, saya secara pribadi menyimpulkannya menjadi tema waktu..

Dari adzan Maghrib hingga tengah malam adalah tema besar waktu keluarga. Suami Istri dan anak-anak sudah seharusnya berkumpul di rumah untuk saling menghangatkan satu sama lain. Bukan malah saling berpencar hilang.

Dari tengah malam ke Subuh hari adalah waktu kontemplatif personal. Merenung, mengonsep, mengerjakan hal-hal yang melibatkan fikiran segar, alangkah baiknya dilakukan di sesi ini.

Dari adzan Subuh hingga waktu Syurq terbit matahari, adalah waktu berdzikir secara sosial, berjamaah, di masjid, berkumpul untuk saling menguatkan batin antar sesama kaum muslimin. 

Dari Syurq sampai tengah hari adalah waktu aktifitas utama. Yang mua’allim ya mengajar di sesi ini, yang berdagang ya dagang, yang birokrat ya uruslah rakyat maksimal.

Ma’asya atau penghidupan ini bisa dilanjut hingga Ashar dengan kadar bobot lebih rendah. Dan setelah Ashar, tema besarnya adalah networking, silahkan nongkrong di cafe berbincang dengan kawan, silahkan saling mengunjungi, ngobrol sore ringan.

Dan begitu jelang Maghrib, kembalilah ke rumah.

*

Menurut Saya yang juga sedang aktif menjalani program ini, hidup seperti ini lebih sehat secara kejiwaan. Pekerjaan itu kalo mau diturutin sampai jam 2 pagi ya tetap saja ada.

Istirahatlah cepat, bangunlah cepat.

Lalu mulailah beraktifitas dari sepagi mungkin, hirup udara segar, bergeraklah berpagi-pagi. Lalu ketika sudah adzan Ashar, stop saja. Beneran. Berkah.

Setelah Ashar, jenguklah kawan yang sakit, datangi yang aqiqah, datangi orang-orang yang ingin bertemu, berbincanglah dengan kawan, ajak makan sore.

Dan begitu jelang Maghrib, kembalilah ke rumah, Maghrib Isya silahkan itikaf di masjid, tetapi bada Isya, kita yang katanya entrepreneur yang independen mengatur waktu, aturlah malam hari kita untuk keluarga.

Gak akan ada lah yang namanya nabung kerja untuk masa depan, atas nama memperjuangkan kebahagiaan istri dan anak-anak di masa depan, tapi Anda tinggal-tinggal gak Anda temani di malam hari. Anak-anak akan kehilangan masa kecilnya dengan ayahnya, istri Anda akan kehilangan waktu ngobrol bersama membangun cinta.

*

Fithrah waktu ini ajaran Islam, ajaran Allah, Qur’an, ketika dilawan, pasti ada dampak. Dan kalo sudah rusak, terkadang tidak bisa mundur diperbaiki.

Kesehatan yang rusak karena bergadang ya gak bisa balik lagi. Kalo jantung Anda rusak, kalo hati Anda radang, kalo paru-paru Anda bocor, ya ganti onderdilnya gak ada.

Keluarga yang rusak dan saling serang sampai pisah, andai pun ditaqdirkan bersama lagi sudah ada record saling melukai, apa gak sedih Anda? Keluarga berantakan.

Bisnis yang seakan-akan Anda perjuangkan juga akhirnya karena melawan Al-Quran ya babak belur. Ngomongnya aja lembur, tapi sebenernya Anda sedang merusak jiwa Anda, akhirnya jiwa gak jernih memutuskan urusan bisnis.

Malam begadang,…

Subuhan gak ada di masjid,…

Atau subuhan telat,…

Andai subuhan, habis subuh tidur lagi, padahal waktu barokah,….

Baru kerja jam 10-11, akhirnya sore kerjaan numpuk.

Kalo Anda pekerja ya gak papa, kalo Anda pengusaha, ya lucu, katanya time liberation, katanya bisa atur waktu, masak menundukkan waktu kepada ajaran Nabi aja gak sanggup.

*

Hentikan saja kongkow-kongkow sampai tengah malam. Hadistnya makruh. Cari sendiri hadistnya. Bahkan jangan bawa-bawa atas nama pergerakan dakwah dan perjuangan, Nabi gak mencontohkan.

Habis Isya dirumah, sama keluarga, didik anak-anak, bersamai Istri, bukan hilang entah kemana.

Jadi istri apalagi, jangan sampai suami malah nunggu istri di rumah atas nama pekerjaan.

Kalo operasional bisnisnya nuntut bermalam-malam, geser jadi pagi, kehilangan customer malam gak papa, banyak banget toko yang operationnya Isya tutup, Maghrib tutup, bisa tetap jalan.

Kalo pun mau ada shift malam, ya Anda jangan ikutan kerja sampai malam, didik SDM, didik manager, yang kerja malam, istirahatnya siang, ya kalo Anda siang dan malam juga kerja ya melawan fithrah.

Yuk sayangi dirimu, sayangi keluargamu, sayangi bisnismu, sayangi sahabatmu, gunakan tema waktu Rasulullah. Setiap waktu ada temanya. Ikutin aja.

*

Sesimple itu hidup Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam, dan para sahabat.

Memulai peradaban ekosistem kaum muslimin di Madinah, tahun 1 Hijriyah.

Merambah membebaskan Romawi dan Persia, di tahun 40 Hijriyah kekuasaan kaum muslimin sudah mencakup puluhan juta meter persegi. Persia Qisra tumbang gak nyisa.

Coba bayangkan, hidupnya tertuntun Al-Qur’an, jadi pemenang.

Tidur cepat, bangun cepat, serangan perang di waktu fajar, dhuha aktifitas utama, kembali ke rumah di malam hari. Beres hampir satu bumi.

Begitu.

URS