Beranda » Jihad Dan Pondok Pesantren

Jihad Dan Pondok Pesantren

Jihad Dan Pondok Pesantren

Jihad Dan Pondok Pesantren

Jihad Dan Pondok Pesantren Dalam sejarah kebangsaan, kita tidak bisa di lepaskan dari peran santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Mungkin kita ingat perjuangan masyarakat Surabaya pada November 1945 untuk mempertahankan kemberdekaan Indonesia yang saat itu belum bisa di terima oleh pihak Belanda sebagai penjajah.

Karena itu saat Sekutu melakukan penyerangan terhadap Hindia Belanda untuk menaklukkan Jepang yang saat itu menjajah bangsa kita, Belanda ikut membonceng.

Kita tahu beberapa tokoh agama tidak menyukaianya dan sampai pada keputusan penting dari Hadratus Syaikh KH Hasyim Ashari untuk mengeluarkan fatwaJihad pada 17 September 1945.

Lalu pada 15 Oktober 1945 pecah pertempuran lima hari di Semarang antara sisa pasukan Jepang dan laskar rakyat setempat.

Beberapa hari kemudian PBNU menggelar rapat konsolisasi sejawa –madura di Surabaya. Hasilnya adalah mengukuhkan resolusi Jihad.

Pertempuran itu melibatkan barisan Hizbullah dan Sabilillah yang terus melakukan konsolidasi untuk mempersiapkan strategi terbaik.

Kedua pasukan sipil itu di bentuk atas prakarsa KH Abdul Wahid Hasyim kala Jepang masih bercokol di Indonesia. 

Baik Hizbullah maupun Sabilillah

merupakan wadah perjuangan fisik umat Islam, khususnya kaum santri, di zaman mempertahankan kemerdekaan. 

Pertempuran 10 November yang menjadi muara atas segalanya dan di kemudian hari di sebut hari Pahlawan adalah pucak jihad santri di indonesia.

Pertempuran dahsyat itu di kenal para tentara sekutu sebagai neraka dunia.

Karena itu sesungguhnya jihad bagi negara seharusnya tidak asing bagi kaum santri. Hanya sayangnya dalam beberapa dekade ini, konsep jihad di alihkan dengan konteks yang berbeda dengan pemahaman tokoh ulama.

Mereka berpaling dari rasa kesatuan dengan sesama warga Indonesia dan justru menebarkan rasa antipati bagi kaum di luar muslim.

Jihad seharusnya bertransformasi menjadi jihad untuk menerbakan Islam rahmatan lil alamin ; Islam yang ramah, moderat, toleran dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Konsep Islam yang moderat seperti ini harus di perkuat di kalangan santri di ponpes sehingga ponpes bisa kembali ke khittah awalnya.

Jika konsep Islam moderat ini bisa di resapi dan tumbuh dengan baik di hati para santri di ponpes maka di yakini kita dapat menekan radikalisme dan terorisme yang berbungkus agama.

Jadi, tetaplah berjihad dan sebarkan Islam rahmatan lil alamin.

Untuk informasi lebih lanjut tentang yayasan kami silahkan kunjungi web fikrulakbar.org