Lompat ke konten
Beranda » Puisi Haru Taufiq Ismail, “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu?”

Puisi Haru Taufiq Ismail, “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu?”

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ

إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Keutamaan: Imam Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai dan lainnya meriwayatkan dari ‘Aisyah RA bahwa Nabi SAW setiap malam membaca surah Bani Israil dan Az-Zumar. Surah ini juga dinamakan surah Bani Israil dan termasuk surah-surah awal yang diturunkan di Mekah.

  1. Maha suci Allah dari apa yang tidak sesuai dengannyan berupa sifat-sifat lemah dan kurang, Dzat yang menjalankan hambaNya, Muhammad SAW secara jasad dan ruh pada sebagian malam sebelum satu tahun berhijrah, dari rumah Ummu Hani’ di seberang Masjidil Haram (Masijil Haram digunakan untuk menyebut Mekah atau tempat suci yang ada di Mekah) menuju masjid Baitul Maqdis yang Kami berkahi sekelilingnya dengan buah-buahan, perkebunan dan sungai-sungai, dan menjadikannya sebagai tempat turunnya malaikat dan tempat tinggalnya para nabi, supaya Kami bisa memperlihatkan dia sebagian dalil-dalil kekuasaan Kami yang menakjubkan dan betapa menakjubkannya para makhluk.

Sesungguhnya Dia (Allah) itu Maha Mendengar ucapan-ucapan hamba-hambaNya dan Maha Melihat perbuatan-perbuatan mereka. Dan di sini Allah menggambarkan nabiNya sebagai orang yang menerima wahyu kehambaan untuk memberi penghormatan, kemuliaan dan isyarat kepadanya yang mana dia berkumpul bersama para nabi dan melakukan perjalanan langit. Dan sungguh rasulallah SAW telah mengatakan kepada kaum Quraisy tentang peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut dan mereka mendustakannya lalu Allah menurunkan ayat ini untuknya sebagai wujud pembenaran baginya.
Referensi : https://tafsirweb.com/4605-surat-al-isra-ayat-1.html

AKSI BEKASI BERSAMA PALESTINA

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Sastrawan besar Indonesia, Taufik Ismail (lahir 1935) dikenal sebagai seorang pujangga yang lekat dengan karya-karya bernafaskan Islam.

Dikenal sebagai warga Persyarikatan, pujangga yang masuk dalam kategori Sastrawan Angkatan 66 ini pernah menciptakan puisi bagi Milad Muhammadiyah ke-108, “Muhammadiyah Satu Abad Delapan Tahun”.

Kepeduliannya terhadap dunia Islam, terutama bagi bangsa Palestina dalam perjuangan melawan kolonialisme dia tunjukkan oleh sebuah puisi berjudul “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu?” yang ditulis pada tahun 1989.

Puisi yang sudah dialihbahasakan dalam bahasa Inggris, Persia, dan Arab ini pernah dibacakan dalam perkumpulan para sastrawan Islam di Ismailiyah, Mesir tahun 2014. Juga pada malam kenegaraan jelang KTT Luar Biasa OKI soal Palestina dan Al-Quds Al-Syarif di Jakarta, tahun 2016.

BERKIBAR BENDERA PALESTINA DI TANAH AIR INDONESIA SELALU HADIR DI HATI RAKYAT INDONESIA

“Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu?”

Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir dan batu bata dinding kamar tidurku bertebaran di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan, lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam file lemari kantor agraria, serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita semua, serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an 40 tahun yang silam, di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi airmataku.

Palestina! bagaimana bisa aku melupakanmu?

Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya, siapakah yang tak menjerit?!! serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka.

Tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya, pembelit leher lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi;

DI JALAN-JALAN IBUKOTA REPUBLIK INDONESIA MENDUKUNG KEMERDEKAAN PALESTINA DENGAN MENGIBARKAN BENDERANYA

‘Allahu Akbar!’ dan ‘Bebaskan Palestina!’

Ketika pabrik tak bernama, 1000 ton sepekan memproduksi dusta, menebarkannya ke media cetak dan elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara, membangkangit resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia, membantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri anda, aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at sedunia:

“Doakan, doakan, doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang menapak jalanNya! yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu dengan kukuh kita bacalah ‘laquwwatta illa bi-Llah!’, ‘laquwwatta illa bi-Llah!’, ‘laquwwatta illa bi-Llah!’”

Palestina! bagaimana bisa aku melupakanmu?

Tanahku jauh, tanah kami jauh bila diukur kilometer. Beribu-ribu kilometer jauh jaraknya, tapi adzan Masjidil Aqsa yang merdu serasa terdengar di telingaku, serasa terdengar di telinga kami, di Indonesia. (afn)Tags:muhammadiyahPalestinaPuisi HaruTaufiq Ismail

SEDANG ORASI SEORANG ANAK ASLI PALESTINA, LAHIR DAN BESAR DI GAZA PALESTINA DARI SEORANG AYAH INDONESIA DENGAN IBU ASLI GAZA HADIR DI MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR DALAM AKSI BEBASKAN AL-AQSA