Lompat ke konten

IBADAH TIDAK HANYA DI BULAN ROMADHAN

  • oleh

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
Artinya: Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Firman Allah: (dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) (99)) Iamam Bukhari berkata, Salim berkata, bahwa maknanya adalah kematian. dan Salim di sini adalah Salim bin Abdullah bin Umar.
Ayat ini yaitu (dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) (99)) digunakan sebagai dalil bahwa ibadah seperti shalat dan sejenisnya itu wajib bagi semua manusia selagi akalnya sehat dan normal, maka dia mengerjakannya sesuai dengan kondisinya,
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih Bukhari, dari Imran bin Hushain bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Shalatlah sambil berdiri; dan jika kamu tidak mampu, maka dengan duduk. Dan jika kamu tidak mampu , maka dengan berbaring pada lambung”
Referensi : https://tafsirweb.com/4249-surat-al-hijr-ayat-99.html

PELAYANAN UMMAT HINGGA KE PEMAKAMAN BERSAMA DIVISI SOSIAL MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR

Rasulullah ﷺ tidak menjadikan ibadah pada batas tertentu sebelum kematian datang menjemput.

Rasulullah ﷺ hidupnya adalah ibadah di semua sisi, dan beliau istiqamah, kontinyu, dan melakukan kebiasan beramal shalih.

Rasulullah ﷺ bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ

“Wahai sekalian manusia, beramalah menurut yang kalian sanggupi, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan, sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara kontinyu walaupun sedikit.” (HR Bukhari)

Dari Aisyah radhiyallahu ànha, beliau menjelaskan salah satu kebiasan Rasulullah ﷺ,

وَكَانَ نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ إِذَا صَلَّى صَلَاةً أَحَبَّ أَنْ يُدَاوِمَ عَلَيْهَا وَكَانَ إِذَا غَلَبَهُ نَوْمٌ أَوْ وَجَعٌ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ صَلَّى مِنْ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Jika Rasulullah ﷺ mengerjakan shalat, maka beliau suka dikerjakan secara terus menerus (kontinyu). Jika beliau ketiduran atau sedang sakit sehingga tidak dapat melakukannya di malam hari, maka beliau shalat di waktu siangnya sebanyak dua belas rakaat.” (HR Muslim)

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ànha,

قالت: مَا مَاتَ رَسُولُ اللهِ حتى كان أَكثرُ صَلاتِهِ وَهُوَ جَالِسٌ، وَكَانَ أَحَبُّ العَمَلِ إِلَيهِ مَا دَاوَمَ عَلَيهِ العَبدُ وَإِن كَانَ شَيئًا يَسِيرًا.

“Rasulullah tidak meninggal hingga kebanyakan shalat yang beliau laksanakan adalah dengan keadaan duduk. Amal yang paling beliau sukai adalah yang terus-menerus meskipun ringan.” (HR Ibnu Hibban)

KENALKAN TERUS MENERUS SHOLAT BERJAMAAH DI MASJID BAGI SISWA SD FIKRUL AKBAR ISLAMIC SCHOOL- BEKASI

Ibnu Rajab berkata, “Membalas nikmat taufik yang diberikan Allah sehingga bisa berpiasa Ramadhan dengan melakukan kemaksiatan setelahnya adalah termasuk perbuatan orang yang mengganti kenikmatan Allah dengan kekufuran.
Dan apabila ketika berpuasa ia bertekad untuk mengulangi kemaksiatan setelah selesai berpuasa, maka ia ditolak dan pintu rahmat tertutup baginya.” (Lathaiful Ma`arif)

Ibnu Qayyim berkata, “Aku mendengar syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah berkata, ‘Jika kamu tidak menemukan kenikmatan dan keluasan di dalam kalbumu ketika beramal, maka curigailah kalbumu. Karena sesungguhnya Allah itu Syakuur, yakni Allah itu pasti akan memberikan pahala orang yang beramal atas amalannya ketika di dunia seperti merasakan kenikmatan, kegembiraan, dan kesenangan di dalam kalbu. Jika seseorang tidak menemukan hal tersebut maka amalannya madkhuul (dimasukkan). Yakni, merasa gembira dan dekat dengan Allah akan menambah ketaatan dan mendorong seseorang untuk bertambah giat dalam meniti jalan kepada-Nya.” (Asmaaullahil husna wa shifaatihil ula)

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *