Lompat ke konten

MEMBERIKAN MAKANAN YANG DISUKAINYA KEPADA ORANG MISKIN, ANAK YATIM DAN ORANG YANG DITAWAN

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا. إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورً

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Seraya berkata): Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena Allah, kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insan: 8-9)


Sebaik-baik teladan ialah:{ وَيُطْعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ } “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya” Hammad bin Abi Sulaiman biasa membe i makanan berbuka puasa setiap malam di bulan Ramadhan untuk lima puluh orang, ketika malam hari raya tiba ia akan memberi mereka pakaian dan memberi mereka uang.
Referensi: https://tafsirweb.com/11736-surat-al-insan-ayat-8.html

Setiap saya selesai khutbah dan memimpin shalat Jum’at di masjid Darussalam Bogor (dan di banyak masjid lainnya), ada satu kegembiraan khusus di kalangan anak-anak. Selepas salam, mereka berhamburan mengejar sebungkus nasi Jum’at berkah. Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin biasa saja. Tapi coba lihatlah dengan mata bathin, anak-anak itu bergembira selesai menunaikan shalat sebab langsung dapat konsumsi makan siang. Isi paketnya boleh jadi hanya nasi, bihun, ayam goreng, kerupuk dan (tak ketinggalan) sambal. Tapi hidangan sederhana itu mendatangkan kebahagiaan. Dan amalan mendatangkan kebahagiaan saja sudah sudah berpahala.

Dalam hitam-putih fiqih, menyantuni anak yatim dan memberi makan orang yang membutuhkan adalah sedekah. Namun dalam kacamata tasawuf, menyaksikan senyum merekah di bibir mungil mereka adalah idkhalus surur — yaitu memasukkan kebahagiaan ke hati saudara mukmin — yang disebut Nabi sebagai amal paling utama.

Keutamaan Idkhalus Surur

Para ulama seperti Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Bujairimi menyebut bahwa memasukkan kebahagiaan ke hati orang beriman termasuk sepuluh hal terpuji dalam silaturahim. Bahkan beliau mengutip hadits:

وَقَدْ وَرَدَ فِي الْخَبَرِ إنَّ أَفْضَلَ الْأَعْمَالِ إدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى الْمُؤْمِنِ

“Telah disebutkan dalam sebuah hadits: Sesungguhnya amal yang paling utama adalah idkhalus surur, yaitu memasukkan kebahagiaan ke dalam hati orang mukmin.”

Subhanallah. Ternyata nasi bungkus yang kita bagikan setiap Jumat bukan sekadar karbohidrat dan protein. Ia adalah kendaraan pahala yang melaju cepat menuju Arsy, hanya karena di ujung perjalanannya ada senyuman tulus seorang anak.

Hari Jumat: Waktu Mustajab untuk Bersedekah

Hari Jumat adalah sayyidul ayyam, pemimpin semua hari. Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا

“Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari ini Adam diciptakan, hari ia dimasukkan ke surga, dan hari ia dikeluarkan darinya.” (HR. Muslim)

Pada hari yang agung ini, sedekah memiliki keutamaan berlipat ganda. Imam Al-Syafi’i meriwayatkan dalam Al-Umm:

بَلَغَنَا عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَإِنِّي أُبَلَّغُ وَأَسْمَعُ. قَالَ: وَيُضَعَّفُ فِيهِ الصَّدَقَةُ

“Telah sampai kepadaku dari Abdullah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Perbanyaklah shalawat kepadaku di hari Jumat, sesungguhnya shalawat itu tersampaikan dan aku dengar. Nabi juga bersabda: Dan di hari Jumat pahala sedekah dilipatgandakan.”

Maka Jumat berkah di masjid kita ini bukan sekadar rutinitas. Ia adalah momentum mengejar pelipatgandaan pahala. Satu bungkus nasi yang kita berikan dengan ikhlas, oleh Allah dikalkulasi dengan sistem ganda yang tidak pernah bisa dihitung manusia.

Teladan dari Zaman Nabi

Yang menarik, tradisi makan siang setelah Jumat ternyata sudah ada sejak masa kenabian. Dalam Shahihain, dari Sahal bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita:

كُنَّا نَفْرَحُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ… كَانَتْ لَنَا عَجُوزٌ تُرْسِلُ إِلَى بُضَاعَةَ… فَتَأْخُذُ مِنْ أُصُولِ السِّلْقِ فَتَطْرَحُهُ فِي قِدْرٍ وَتُكَرْكِرُ حَبَّاتٍ مِنْ شَعِيرٍ… فَإِذَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ انْصَرَفْنَا وَنُسَلِّمُ عَلَيْهَا فَتُقَدِّمُهُ إِلَيْنَا فَنَفْرَحُ مِنْ أَجْلِهِ

“Kami sangat gembira bila tiba hari Jumat. Ada seorang nenek tua yang pergi ke kebun di Madinah, mengambil ubi dan memasukkannya ke periuk, juga membuat adonan dari biji gandum. Apabila kami selesai shalat Jumat, kami pergi mengucapkan salam padanya, lalu ia menyuguhkan makanan itu untuk kami. Karena itulah kami sangat gembira.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah! Bahkan para sahabat saja bergembira dengan makanan sederhana dari seorang nenek. Maka jangan pernah remehkan nasi bungkus kita. Yang sederhana di mata kita, bisa menjadi puncak kebahagiaan di hati anak-anak yatim dan dhuafa. Dan kebahagiaan merekalah yang kelak menjadi saksi di hadapan Allah.

Memberi Makan: Jalan Menuju Surga

Allah memuji hamba-Nya yang gemar memberi makan:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا. إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang3 ditawan. (Seraya berkata): Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena Allah, kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insan: 8-9)

Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Salam:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بِسَلَام

“Wahai manusia! Tebarkanlah salam, berilah makan, shalatlah di saat manusia tidur, niscaya kalian masuk surga dengan penuh kesejahteraan.” (HR. Tirmidzi, shahih)

Bahkan dalam hadits lain, Rasulullah menjamin kedekatan posisi di surga bagi yang menyantuni anak yatim:

كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ وَفَرَّقَ بَيْنَ أُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

“Aku dan dia (penanggung anak yatim) di surga seperti dua jari ini,” Nabi memisahkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Ahmad)

Kebahagiaan yang Mengalirkan Pahala

Setiap Jumat, anak-anak itu pulang dengan tangan mengepal nasi bungkus. Mereka tidak paham konsep idkhalus surur, tidak mengerti definisi sedekah Jumat. Tapi dada mereka hangat, perut mereka kenyang, dan hati mereka ceria. Itu cukup.

Di sisi lain, para donatur dan panitia mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan anak-anak itu. Namun pahalanya tetap mengalir. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bukankah memberi makan anak-anak yatim dan dhuafa ini adalah bentuk silaturahim yang paling nyata?

Jumat depan, ketika anak-anak itu kembali berhamburan mengejar nasi berkah, coba sapa mereka. Lihat matanya yang berbinar. Itulah investasi akhirat yang cair setiap pekan. Sederhana, tapi tak ternilai.

Semoga Allah menerima sekian bungkus nasi yang telah terbagi, sekian senyum yang telah terukir, dan menjadikannya bekal kita menuju surga-Nya. Aamiin. Sumber Oleh: Inayatullah A. Hasyim / Tausiyah Harian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *