Kategori: baitulmaal

  • ADA APA DI DZULQO’DAH BULAN SUCI YANG SERING TERLUPAKAN

    ADA APA DI DZULQO’DAH BULAN SUCI YANG SERING TERLUPAKAN

    عن أبي بكره رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
    الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

    Dari Abu Bakrah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari & Muslim)

    Sebab dan alasan bulan Dzulqadah termasuk bulan haram

    Bulan DZulqa’dah merupakan bulan pertama dari rangkaian bulan haram. Sebab disucikan dan diharamkannya tumpah darah pada bulan ini adalah karena pada zaman jahiliyah, mereka mulai berjalan dan berpergian menuju tanah Makkah untuk berhaji pada bulan Dzulqodah. Agar perjalanan yang mereka lakukan menjadi aman dan tenteram dari gangguan para perompak. Oleh karenanya, Allah Ta’ala berfirman,

    فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

    Maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)

    Para ulama mengatakan, “Larangan ini berlaku sepanjang tahun. Hanya saja di 4 bulan haram ini, larangannya lebih ditekankan lagi, dan dosa di dalamnya Allah jadikan lebih besar. Begitu pula dengan amal saleh, pahalanya juga lebih besar”.(Sumber: muslim.or.id)

    SISWA SD FIKRUL AKBAR ISLAMIC SCHOOL SELEPAS SHOLAT BERJAMAAH DAN MEMBERBANYAK DZIKIR DI MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR

    Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

    1- Dalam hadits ini, telah menerangkan bulan-bulan dalam syariat Islam yang berjumlah dua belas bulan, empat bulan haram(suci) diantaranya adalah bulan Dzulqa’dah ’. 

    2- Dzulqa’dah yang bertepatan dengan bulan Mei . Terdapat sejumlah amalan dan keutamaan bulan Dzulqa’dah atau dikenal juga dengan bulan Dzulqa’dah.

    3- Bulan ke-11 dalam penanggalan Islam ini termasuk merupakan waktu yang dimuliakan oleh Allah. Bulan ini kerap terlupakan oleh banyak orang karena hampir tak ada momen yang kerap dirayakan umat Islam.

    4- Namun, inilah yang justru menjadi kelebihan bulan Dzulqa’dah.
    Keutamaan bulan Dzulqa’dah yang paling utama adalah bulan yang termasuk dalam bulan haram.

    5- Dzulqa’dah merupakan satu dari empat bulan yang termasuk dalam bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Tiga bulan mulia lainnya adalah bulan Muharam, Rajab, dan Dzulhijah.

    6- Amalan yang dilipatgandakan
    Allah menjanjikan setiap amalan yang dilakukan pada bulan yang mulia bakal dilipatgandakan.

    7- Kebanyakan kaum muslimin terlupa melakukan kebaikan amal saleh di bulan Dzulqa’dah, dibandingkan bulan Dzulhijjah yang ada ibadah haji, Muharam ada peringatan tahun baru Islam, atau Rajab banyak momen penting. Padahal, barang siapa yang melaksanakan amalan shaleh di bulan haram pahalanya bakal dilipat gandakan.

    8- Dosa yang juga dilipatgandakan
    Saat amalan baik dilipatgandakan, sebaliknya dosa juga bakal dilipatgandakan. Sesuai surat At-Taubah ayat 36, pada bulan yang dimuliakan Allah, umat Islam juga dilarang untuk menganiaya diri sendiri.

    9- Ancamannya juga luar biasa. Melakukan dosa di bulan haram itu dosanya menjadi berlipat. Jangan menzalimi diri, kezaliman di bulan haram lebih parah dosanya, maka hati-hati, maksiat, syirik, ria, gibah, korupsi dan sebagainya sangat berbahaya.

    10- Oleh karena itu umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak melakukan amal soleh sepanjang bulan Dzulqa’dah ini.

    PERBANYAK AMAL JARIAH DENGAN PROGRAM BEASISWA BAGI SISWA SD FIKRUL AKBAR ISLAMIC SCHOOL DARI BAITULMAAL MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR

    Berikut amalan pada bulan Dzulqa’dah .

    1. Memperbanyak ibadah puasa Umat Islam dapat memperbanyak ibadah puasa di bulan Dzulqa’dah. Puasa yang dapat dilakukan adalah puasa sunah Senin Kamis, puasa Daud, dan puasa Ayyamul Bidh.
    2. Memperbanyak salat sunah. Perbanyak pula amalan salat sunah seperti salat malam, salat dhuha, salat taubat dan sebagainya.
    3. Memperbanyak zikir
      Mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dengan berzikir juga sangat dianjurkan di bulan Dzulqa’dah.
    4. Berlaku baik
      Perbanyak amal saleh dengan berlaku baik kepada orang lain.
      Bersedekah, berlaku baik pada orang tua, keluarga, kasih sayang pada suami, istri, dan anak-anak itu akan berlipat ganda.

    MEMANFAATKAN KEBERADAAN BULAN DZUL-QOIDAH DENGAN KEGIATAN MAJLIS TALIM DI RUMAH BAITULMAAL MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR.

    Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

    1- Allah telah menerangkan bulan-bulan dalam syariat Islam yang berjumlah dua belas bulan, empat diantaranya adalah bulan haram

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

    Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu dan perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya; dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
    ( QS. At-Taubah: 36)(Sumber :Ustadz Muslih Rosyid)

  • MASJID VISIONER BERORIENTASI PADA PEMBERDAYAAN UMAT

    MASJID VISIONER BERORIENTASI PADA PEMBERDAYAAN UMAT

    لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
    Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

    📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur’an Univ Islam Madinah

    Diriwayatkan ari Amr bin Maimun, tentang (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan) Dia berkata, “Kebajikan itu adalah surga”
    Diriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah mendengar Anas bin Malik, dia berkata, “Abu Thalhah adalah salah satu kaum Anshar yang paling kaya di Madinah. Hartanya yang paling dia cintai adalah kebun kurma Bairuha’ yang berada di depan masjid. Nabi SAW sering masuk ke kebun itu dan minum air yang ada di sana. Anas berkara, ketika turun ayat: (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai) Abu Thalhah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai) dan harta yang paling aku cintai adalah kebun kurma Bairuha’, ini adalah sedekah untuk Allah. Aku berharap agar kebun ini menjadi amal kebajikan di sisi Allah. Tempatkanlah kebun ini, wahai Rasulullah, sesuai dengan kehendak Allah.” Lalu Nabi SAW bersabda, “Itu benar, itu adalah harta yang menguntungkan.” Aku telah mendengar “Aku melihat kamu memberikannya kepada kerabat” Lalu Abu Thalhah berkata “Aku akan melakukannya, wahai Rasulullah” Lalu Abu Thalhah membaginya kepada kerabatnya dan sepupunya.
    Referensi : https://tafsirweb.com/1224-surat-ali-imran-ayat-92.html

    PENYALURAN ZAKAT MAAL UNTUK PEMBERDAYAAN EKONOMI UMMAT OLEH AMIL BAITULMAAL MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR DI GEROBAK USAHA IBU MAJLIS TALIM MASJID AL-FATIHAH- KOTA BEKASI.

    Pemberdayaan merupakan proses, cara dan upaya untuk menjadikan orang lain memiliki
    daya, kemampuan atau kekuatan. Secara istilah pemberdayaan merupakan upaya membangun daya yang dimiliki duafa atau orang lemah dengan cara menggerakkan,
    memberikan motivasi dan meningkatkan kesadaran tentang potensi yang dimilikinya, serta
    berupaya untuk mengembangkannya.

    Ada juga yang memahami pemberdayaan umat sebagai upaya dalam penyediaan sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan bagi umat untuk menumbuhkan dan meningkatkan kapasitas mereka, sehingga dapat menemukan masa depannya yang lebih baik. Pemberdayaan Umat diartikan sebagai sebuah upaya untuk mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih baik, sehingga kualitas dan kesejahteraan hidupnya secara perlahan juga akan meningkat.

    Berkaitan dengan masalah tersebut, kemiskinan dapat diatasi dengan memberdayakan
    ekonomi yang merupakan solusi yang diberikan Alquran, salah satu pemberadayaan umat
    yaitu dengan berinfak. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran 92
    Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan
    sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah
    mengetahuinya.
    Pemberdayaan merupakan salah satu visi misi Alquran untuk menjelaskan kepada
    manusia bahwa Alquran terus berlaku di mana pun dan kapan pun sampai akhir zaman.
    Pemberdayaan merupakan suatu bentuk cara, proses dan upaya untuk menjadikan pihak lain
    mempunyai daya atau kekuatan.3 Yakni suatu proses yang berjalan terus-menerus untuk
    membangun ataupun meningkatkan kemampuan masyarakat dalam meningkatkan taraf
    hidupnya, upaya tersebut hanya dapat dilakukan dengan menumbuhkan dan membangkitkan
    keberdayaan mereka.

    PENYALURAN BAITUL MAAL MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR KE SALAH SATU 8 ASNAF JAMAAAH MASJID AL-FATIHAH – KOTA BEKASI

    Masjid visioner adalah masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki visi jangka panjang dalam pemberdayaan umat dan pembangunan peradaban Islam.
    Masjid ini dikelola dengan profesionalisme, inovasi, dan kepedulian sosial, sehingga mampu menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, ekonomi, dan sosial bagi masyarakat sekitar.

    Ciri-ciri Masjid Visioner:

    1. Berorientasi pada Pemberdayaan Umat
      Masjid tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga pusat pendidikan, ekonomi, dan sosial.
      Mengadakan program-program pelatihan keterampilan, bimbingan belajar, serta kajian keislaman yang mendalam.
    2. Memiliki Manajemen yang Baik.
      Dikelola secara profesional dengan struktur kepengurusan yang jelas.
      Transparansi dalam pengelolaan dana dan aset masjid.
      Memanfaatkan teknologi dalam administrasi dan komunikasi dengan jamaah.
    3. Mandiri Secara Ekonomi
      Memiliki sumber pendanaan yang berkelanjutan, seperti unit usaha berbasis syariah.

    Mengembangkan koperasi, minimarket, atau usaha lain yang bermanfaat bagi umat. SEMOGA BERMANFAAT DAN BERKAH SELALOE

    PEMBERDAYAAN UMAT MELALUI PELATIHAN PERTANIAN DI P2EKOMAS MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR

  • DOA ORANG YANG BERPUASA DI JABAH ALLAH

    DOA ORANG YANG BERPUASA DI JABAH ALLAH

    ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ
    Artinya: Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.


    📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur’an Univ Islam Madinah


    Allah SWT memberikan petunjuk kepada hamba-hambaNya agar mereka berdoa kepadaNya yang merupakan kebaikan bagi dunia dan akhirat mereka. Lalu Allah SWT berfirman: (Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan merendahkan diri dan suara yang lembut) Dikatakan bahwa maknanya adalah dengan merendahkan diri, tunduk, dan dengan lemah lembut. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai

    (205)) (Surah Al-A’raf) dan disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari, dia berkata,”Orang-orang meninggikan suaranya ketika berdoa. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian tidaklah berdoa kepada Tuhan yang tuli dan tidak pula yang tidak ada, sesungguhnya Tuhan yang kalian mintai doa itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat”
    Ibnu Jarir berkata tentang makna (tadharru’) adalah merendahkan diri dan tenang dalam ketaatan kepadaNya dan (wa khufyah) dia berkata dengan hati yang tunduk, dan yakin pada Keesaan dan KetuhananNya dalam sesuatu antara kalian dan Dia, dan tidak pula dengan suara yang keras dan riya’.


    Ibnu Juraij berkata bahwa meninggikan suara, berseru, dan menjerit dalam berdoa itu makruh. Hal yang diperintahkan adalah dengan merendahkan diri dan tunduk. Kemudian dia meriwayatkan dari ‘Atha’ dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (55)) yaitu dalam berdoa dan dalam hal lain.
    Referensi : https://tafsirweb.com/2509-surat-al-araf-ayat-55.html

    Do’a Orang yang Berpuasa Diijaba Allah

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ ” رواه الترمذي (2525) وصححه الألباني في صحيح الترمذي (2050)

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam,
    “Tiga kelompok yang tidak akan ditolak do’anya: Orang yang berpuasa sampai ia berbuka. Pemimpin yang adil. Dan do’a orang yang teraniaya. Allah menyibak awan dan membuka pintu-pintu langit seraya berfirman: “Demi kemulian-Ku dan keagungan-Ku, pasti Aku tolong kamu, walau setelah beberapa waktu.” (Hr.Ahmad dan At Tirmidzi)

    Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

    1- Doa adalah perwujudan rasa cinta seorang hamba kepada Allah Subhanahu Wata’ala sekaligus pengakuan akan kebutuhan dan pertolongan-Nya. Hakikat doa sebenarnya juga meminta kekuatan dan kesanggupan dari Allah Subhanahu Wata’ala Dalam doa ada makna memuji Allah Subhanahu Wata’ala ada pengakuan bahwa Allah Maha Mulia lagi Maha Pemurah. Itu semua menjadi ciri pengabdian dan penghambaan.

    2- Doa adalah ibadah.

    3- Putusan atau qodha’ Allah tidak bisa ditolak kecuali dengan doa

    لا يرد القضاء إلا الدعاء ولا يزيد في العمر إلا البر

    “Putusan atau qadha’ Allah tidak bisa ditolak kecuali dengan doa. Dan sesuatu tidak akan menambah umur kecuali kebaikan.

    4- Do’a orang-orang yang bepuasa, do’a yang diijabah. Maka jangan disia- siakan.

    Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran:

    1- Ramadhan adalah syahrud du’aa’, bulan berdo’a-. Sehingga rangkaian ayat-ayat shaum yang panjang itu, disisipi seruan untuk berdo’a.

    وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

    Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al-Baqarah :186)

    2- Berdo’alah, Alloh akan mengabulkannya. Secara umum Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdo’a, memohon dan memelas kepada-Nya. Alloh juga telah menjanjikan akan mengabulkan permohonan hamba tersebut.

    ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ

    “Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60).

    3- Rendah diri dan khusyu’.

    ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

    “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Araf:55.).

  • KEBAHAGIAAN ORANG YANG BERPUASA

    KEBAHAGIAAN ORANG YANG BERPUASA

    وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ

    Artinya: Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri

    إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
    Artinya: Kepada Tuhannyalah mereka melihat.

    Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur’an Univ Islam Madinah

    Kemudian Allah SWT berfirman: (Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri (22))
    dari kata “an-nadharah” yaitu bagus, cerah, bersinar, dan gembira (Kepada Tuhannyalah mereka melihat (23)) yaitu melihat Tuhannya dengan terang-terangan, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam hadits shahihnya:”Sesungguhnya kamu kelak akan melihat Tuhanmu dengan terang-terangan” Dan sungguh terkait melihatnya orang-orang mukmin kepada Allah SWT di akhirat telah disebutkan hadits-hadits shahih dari berbagai jalur yang mutawatir, yang telah dinukil oleh para imam hadits, sehingga tidak mungkin ditolak atau dicegah kebenarannya. Hadits dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah yang keduanya ada dalam hadits shahih Bukhari Muslim bahwa sejumlah orang bertanya,”Wahai Rasulullah, apakah kita dapat melihat Tuhan kita pada hari kiamat?” Rasulullah SAW bertanya:”Apakah kalian berdesak-desakan saat melihat matahari dan bulan di hari yang tak berawan?” Mereka menjawab, “Tidak” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian seperti itu”
    Hal ini dengan memuji Allah telah menjadi kesepakatan di antara para sahabat, tabi’in, dan ulama’ Salaf dari umat ini, sebagaimana hal ini telah disepakati di kalangan para imam Islam dan para ulama pemberi petunjuk manusia. Orang yang menakwilkan kata “ila” sebagai bentuk tunggal dari “Al-ala’” yaitu nikmat-nikmat, seperti yang dikatakan Ats-Tsauri, dari Manshur, dari Mujahid tentang firmanNya: (Kepada Tuhannyalah mereka melihat (23)) dia berkata, “menunggu pahala dari Tuhan ” Maka sesungguhnya pendapat ini menjauhkan keraguan dan membatahkan argumen yang disampaikan. Lalu bagaimanakah jawaban orang yang berpendapat demikian dengan adanya firman Allah SWT: (Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka (15)) (Surah Al-Muthaffifin)
    Imam Syafii berkata bahwa tidaklah orang-orang durhaka dihalangi dari melihat Tuhan mereka, melainkan karena diketahui bahwa orang-orang yang baik dapat melihat Tuhan mereka. Kemudian banyak juga pemberitahuan-pemberitahuan dari Rasulullah SAW secara mutawatir menunjukkan pengertian yang sama dengan konteks ayat yang mulia, yaitu firmanNya SWT: (Kepada Tuhannyalah mereka melihat (23))
    Referensi : https://tafsirweb.com/11670-surat-al-qiyamah-ayat-22.23

    SUASANA JAMAAH SHOLAT TARAWIH DI MASJID FATIMAH FIKRUL AKABAR AWAL ROMADHON 1447 H

    Kebahagiaan Orang yang Berpuasa

    عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال، قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
    وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُ بِهِمَا فَرْحَةٌ عِنْدَ إفْطَارِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ}.

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Bagi orang yang berpuasa itu dua kebahagiaan, ia berbahagia ketika berbukanya dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya.” Hadis ini sama dengan hadist sebelumnya yang merupakan penggalan hadis yang diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah. Hanya saja, imam As-Suyuthi menyebutkannya dengan riwayat bilmakna.

    Pelajaran yang terdapat didalam hadist:

    1- Bahwa maksud kebahagiaan orang yang berpuasa saat berbuka adalah dengan hilangnya rasa lapar dan dahaga ketika diperbolehkan baginya berbuka.

    2- Dikatakan pula bahwa kebahagiaannya saat berbuka adalah ia telah menyempurnakan puasanya, menyelesaikan ibadahnya, diringankan (untuk beribadah) dari Tuhannya, dan mendapatkan pertolongan untuk puasa yang akan datang.

    3- Sementara itu, maksud dari kebahagiaan saat bertemu Tuhannya adalah ketika di hari Kiamat kelak, yakni dengan memperoleh balasan (nikmat) dan pahala atau dengan melihat wajah Tuhannya.

    Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur’an :

    • Di akhirat nanti orang mukmin yang berpuasa melihat Tuhannya dengan jelas.

    وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَة

    Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat (Al-Qiyamah: 22-23).(sumber : Oleh Ustadz Muslih Rosyid )

  • RAMADHAN BULAN PENDIDIKAN

    RAMADHAN BULAN PENDIDIKAN

    قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى
    Artinya: Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

    TAUD-TKI-SD-SMP FIKRUL AKBAR DI ACARA ROMADHON BERBAGI 1447 H BAGI DHUAFA SEKITAR KAMPUNG ASEM BEBELAN BEKASI SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN DALAM MENANAMKAN KEBAIKAN

    Allah SWT berfirman seraya memerintahkan kepada para hambaNya yang beriman untuk terus taat dan bertakwa kepadaNya: (Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan) yaitu bagi orang yang mengerjakan amal baik di dunia ini, pahala kebaikan baginya di dunia dan akhirat.
    Firman Allah SWT: (Dan bumi Allah itu adalah luas) Mujahid berkata,”Maka berhijrahlah padanya, berjihad dan pisahkanlah diri kalian dari berhala-berhala.
    Diriwayatkan dari ‘Atha’ tentang firman Allah SWT: (Dan bumi Allah itu adalah luas) dia berkata,”Apabila kalian diajak untuk melakukan perbuatan durhaka, maka larilah. Kemudian dia membaca firmanNya: (Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu) (Surah An-Nisa: 97)
    As-Suddi berkata tentang firmanNya: (Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas) yaitu di surga
    Referensi : https://tafsirweb.com/8672-surat-az-zumar-ayat-10.html

    Ramadhan Adalah Bulan Pendidikan Kesabaran

    عن أبي قتادة رضي اللَّه عنه قال، قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
    ((صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ))

    Dari  Abu Qatadah radhiyallahu anhu berkata, berkata rasulullah shallallahu alaihi wasallam :
    “Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan adalah puasa sepanjang tahun”. [Musnad Imam Ahmad  (7567، 8965) dan Imam Muslim  (1162), dan ini lafadz riwayat Imam Ahmad].

    PENYALURAN BINGKISAN ROMADHON 1447 H LANGSUNG DI LAKUKAN OLEH MURID FIKRUL AKBAR ISLAMIC SCHOOL KE MASYARAKAT MENUMBUHKAN RASA PEDULI SESAMA DI USIA DINI

    Pelajaran yang terdapat didalam hadist:

    1- Adalah sebuah anugerah yang besar ketika seorang hamba menjumpai bulan Ramadhan yang diberkahi ini, karena ia akan memetik sekian banyak faedah yang besar jika ia benar-benar memanfaatkan bulan yang agung ini untuk beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya.

    2- Diantara faedah yang besar itu adalah diraihnya KESABARAN, baik dalam melakukan ketaatan kepada Allah, menjauhi kemaksiatan maupun didalam menghadapi taqdir Allah yang terasa berat dirasa oleh seorang hamba.

    3- Ketiga hal ini -yang mengumpulkan seluruh ajaran agama Islam ini- tidaklah bisa terlaksana kecuali dengan kesabaran.

    4- Sesungguhnya kesabaran adalah asas yang terbesar bagi setiap akhlak yang indah dan bagi upaya menghindari akhlak yang hina. Dan sabar itu adalah menahan diri dari perkara yang tidak disukai oleh hawa nafsu dan menyelisihi seleranya, dalam rangka meraih ridho Allah dan pahalanya.

    5- Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah madrasah yang agung dan bangunan (keimanan) yang tinggi, yang para hamba mengambil darinya banyak ibroh dan pelajaran bermanfaat yang mendidik jiwa dan meluruskannya pada bulan Ramadhan ini dan di sisa umurnya. Dan salah satu (pelajaran besar) yang diambil oleh orang-orang yang berpuasa di bulan yang agung dan musim yang diberkahi ini adalah membiasakan diri dan membawanya kepada kesabaran, oleh karena itu , terdapat dalam beberapa Hadits, (bahwa) Nabi yang sangat penyayang –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mensifati bulan Ramadhan dengan “bulan kesabaran”.

    Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur’an :

    1- Yakni Aku akan memberikan pahala yang banyak kepada orang yang sabar tanpa menentukan kadarnya.

    إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

    Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (Az-Zumar: 10)

    2- Perintah ini tidak dapat diterima, tidak dapat pula diamalkan kecuali hanyalah oleh orang yang sabar dalam menjalaninya, obyek sabar: sabar dalam ketaatan, sabar tidak berbuat maksiat,  sabar didalam menghadapi taqdir Allah yang terasa berat dirasa oleh seorang hamba. Karena sesungguhnya hal ini amat berat pengamalannya.

    وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

    “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fussilat:35).(Sumber : Oleh Ustadz Muslih Rosyid)

  • ANJURAN MENGHADIRI SHOLAT BERJAMAAH ISYA DAN SHUBUH BERJAMAAH

    ANJURAN MENGHADIRI SHOLAT BERJAMAAH ISYA DAN SHUBUH BERJAMAAH

    TADABUR AL-QURAN DAN HADIS

    أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيْلِ وَقُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

    Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

    Allah SWT berfirman kepada RasulNya SAW untuk mengerjakan shalat fardu pada waktunya (Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir) Dikatakan bahwa maknanya adalah tenggelamnya matahari,
    Diriwayatkan dari ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan “duluukiha” adalah tergelincirnya matahari.
    Berdasarkan hal ini maka ayat ini mengandung makna keterangan tentang waktu shalat lima waktu.

    Berdasarkan firmanNya: (dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam) yaitu kegelapan malam, dan dikatakan yaitu terbenamnya matahari. Dapat diambil dari makna ayat ini yaitu waktu zhuhur, ashar, maghrib dan isya’.
    Firman Allah: (dan (dirikanlah pula shalat) Subuh) yaitu shalat subuh.
    (Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)) dari Ibnu Mas’ud, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW tentang dengan firmanNya: (dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)) beliau bersabda,”Shalat subuh disaksikan para malaikat di malam hari dan para malaikat di siang hari.
    Referensi : https://tafsirweb.com/4682-surat-al-isra-ayat-78.html

    KAJIAN ILMIAH BADA MAGRIB DILANJUTKAN SHOLAT ISYA BERJAMAAH DI MASJID FATIAMAH FIKRUL AKBAR SETIAP MALAM SENIN

    عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُول اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : (( مَنْ صَلَّى العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ ، فَكَأنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ في جَمَاعَةٍ ، فَكَأنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ )) رواه مُسْلِمٌ .

    Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat separuh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Shubuh berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat semalaman penuh.’” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 656]

    وَفِي رِوَايَةِ التِّرْمِذِي عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – :

    (( مَنْ شَهِدَ العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفَ لَيلَةٍ ، وَمَنْ صَلَّى العِشَاءَ وَالفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ ، كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ )) قَالَ التِّرْمِذِي : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) .

    Dalam riwayat Tirmidzi, dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menghadiri shalat Isya berjamaah, maka baginya shalat separuh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya seperti shalat semalaman.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits ini hasan shahih.) [HR. Tirmidzi, no. 221]

    Pelajaran yang terdapat di dalam hadist :

    1- Dianjurkan menjaga shalat Isya dan Shubuh secara berjamaah. Karena kalau dua shalat ini dijaga, tentu shalat lainnya dijaga pula.

    2- Menjaga shalat Isya dan Shubuh merupakan tanda iman. Karena ketika itu keadaan gelap dan sedang menikmati makan malam.

    3- Yang meninggalkan shalat Isya dan Shubuh hanyalah munafik dan orang yang punya uzur.

    4-Keutamaan shalat Isya berjamaah seperti melaksanakan shalat separuh malam.

    5- Keutamaan shalat Shubuh berjamaah seperti melaksanakan shalat semalam penuh.

    Tema hadist yang berkaitan dengan al quran :

    • Bahwa salat Subuh itu disaksikan oleh para malaikat yang telah bertugas di malam hari dan para malaikat yang akan bertugas di siang hari.

    إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

    Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (Al- Isra: 78).

    PEMBINAAN SANTRI FIKRUL AKBAR DENGAN SHOLAT SUBUH DAN ISYA BERJAMAAH DI ACARA MABIT

  • SD FIKRUL AKBAR MEMPEROLEH HASIL AKREDITASI “A”DI TAHUN 2024

    SD FIKRUL AKBAR MEMPEROLEH HASIL AKREDITASI “A”DI TAHUN 2024

    Alhamdulillah atas izin Allah Prestasi ini adalah hasil kerja keras bersama dan komitmen kami dalam memberikan pendidikan terbaik.Jazaakumulloh khoiron kepada seluruh siswa, orangtua, guru, staf, dan pihak terkait atas dukungan dan dedikasinya.

    MENUNGGU ARAHAN SEBELUM ACARA BERMAIN BERSAMA DI HALAMAN SD FAIS

    KEHIDUPAN DUNIA DIBANDINGKA DENGAN AKHERAT

    TADABUR AL-QURAN DAN HADIS

    المُسْتَوْردِ بنِ شَدَّادٍ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قََالَ رَسُولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
    مَا الدُّنْيَا في الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ أُصْبُعَهُ فِي الْيَمِّ . فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟
    رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari al-Mustaurid Ibn Syaddad Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
    Tidaklah dunia ini dibandingkan dengan akhirat, melainkan seperti jari yang dicelupkan salah seorang di antara kalian ke dalam air laut lalu ditarik kembali. Lihatlah, seberapa banyak air yang melekat di jarinya itu.
    (HR Muslim). Hadist sahih, diriwayatkan oleh Muslim, hadist no. 5101; al-Tirmizi, hadis no. 2245; Ibn Majah, hadist no. 4098; Ahmad, hadist no. 17322, 17323 dan 17332.

    Pelajaran yang terdapat didalam hadist :

    1- Jika engkau ingin mengetahui hakikat dunia bila dibandingkan dengan akhirat, maka letakkan jari telunjukmu ke lautan, kemudian angkatlah, lalu lihat apa yang masih tersisa (di telunjukmu)?! Tidak ada artinya air yang tersisa dibandingkan lautan itu.

    2- Inilah arti dunia dibandingkan dengan akhirat dari sisi masanya yang pendek dan kelezatannya yang fana, serta kelanggengan akhirat dan kenikmatannya; hanya seperti air yang melekat pada telunjuk dibandingkan air laut yang tersisa.

    3- Maka tidaklah nikmat kehidupan dunia dibandingkan akhirat itu kecuali sedikit. Sehingga, seluruh kenikmatan dan kelezatan dunia yang diberikan kepada seluruh makhluk, dinikmati oleh hamba dalam waktu singkat, diliputi dengan kekurangan dan dipenuhi oleh kekeruhan; digunakan manusia berhias dalam masa yang sebentar demi kesombongan dan ria, lalu ia akan binasa dengan cepat dan diikuti dengan kerugian dan penyesalan.

    4- Dan apapun yang diberikan kepada kalian, maka (itu) hanyalah nikmat kehidupan dunia dan perhiasannya, dan apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan abadi. Tidakkah kalian menggunakan akal kalian?” Maka apa yang ada di sisi Allah berupa kenikmatan abadi, kehidupan yang menyenangkan, istana dan kegembiraan, itu lebih baik dan abadi; baik kualitas dan kuantitasnya. Ia kekal untuk selamanya.  

    SAAT ISTIRAHAT SANTRI BERMAIN BERSAMA DI ACARA MABIT SANTRI CERIA TIAP AHAD DI HALAMAN FIKRUL AKBAR ISLAMIC SCHOOL

    Tema hadist yang berkaitan dengan al quran :

    • Agar manusia mengambil pelajaran dari perumpamaan ini yang menunjukkan akan lenyapnya dunia dari pemiliknya dengan cepat, tetapi mereka teperdaya olehnya, merasa yakin dan pasti bahwa diri mereka pasti dapat memetik hasilnya pada waktunya, tetapi akhirnya dunia luput dari mereka. Karena sesungguhnya watak dunia itu selalu lari dari orang yang memburunya dan selalu memburu orang yang menghindarinya.

    إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ.

    Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasan­nya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanaman) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).(Yunus: 24-25).( Sumber : Ust.Muslih Rosyid)