PARA ABDI KA’BAH

۞ إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا
يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.


Bekasi,fikrulakbar.org- Umar bin Khattab pernah berkata kepada bangsa Quraisy:
“Sesungguhnya yang menguasai urusan Baitullah sebelum kalian adalah kabilah Thasm, lalu mereka melalaikan kewajiban terhadap Baitullah dan merusak kehormatannya, sehingga Allah menghancurkan
mereka. Kemudian urusan Baitullah dikuasai Oleh kabilah Jurhumdan merekapun melalaikan kewajiban terhadapnya dan merusak kehormatannya. Hingga Allah menghancurkan mereka, maka janganlah kalian meremehkan urusannya!, tetapi agungkanlah ia!.


Menurut para pakar sejarah, tatkala suku Jurhum melalaikan tugasnya terhadap Ka ‘bah, Allah mengusir mereka. Kemudian urusan Ka’bah setelah ah dikuasai Oleh Qushayy bin Kilab. la yang bertanggung jawab terhadap Ka’bah dan urusan kota Mekkah. Kemudian jabatan ini dialihkan kepada anaknya Abdul Dar, penanggung jawab Ka’bah,
Dar An-Nadwah dan pengibar bendera perang. (Dar An-Nadwah yang ber arti: balai penemuan adalah tempat penduduk Mekkah memutuskan perkara dan tempat mereka bermusyawarah). Dan urusan menyediakan makanan dan minuman untuk jema’ah haji diserahkan kepada anaknya yang lain, yaitu: Abdul Manaf- Selanjutnya jabatan penanggung jawab Ka ‘bah diserahkan Oleh Abdul Dar kepada anaknya Utsman. Jabatan ini selanjutnya diwariskan secara turun-temurun hingga akhirnya dipegang Oleh Utsman binThalhah. Ut sman berkata: “Aku membuka pintu Ka’bah setiap hari Senin dan Kamis, Suatu hari rasulullah dan para sahabatnya datang dan ingin masuk Ka’bah tetapi aku mencegahnya dan beliau menolakku dengan santun, seraya berkata: “Hai Utsman! Suatu hari engkau akan melihat kunci Ka’bah itu berada di tanganku, lalu aku berikan kepada orang yang aku kehendaki”_ Aku berkata: “Di harl itu Quraisy menjadi binasa dan hina!”. Beliau berkata: “Bahkan menjadi mulia. ” Lalu beliau mastlk ke Ka ‘bah dan perkataannya tadi sangat menusuk jiwaku dan aku yakin bahwa apa yang diucapkannya itu akan terjadi. Kemudian aku ingin masuk Islam tetapi kaumku sangat melarangku.


Ketika Rasulullah masuk Mekkah melakukan umrah qadha•,Allah mengubah hatiku dan memasukkan Islam ke dalam relung hatiku, dan aku sangat berkeinginan untuk mendatangi beliau, tetapi beliau telah kembali ke Madinah. Kemudian diam-diam aku berangkatke Madinah, di tengah perjalanan aku bertemu dengan Khalid bin Walid 0k, lalu kami jalan beriringan.Ditengah jalan kami beflemu Amru bin • Ash dan meneruskan perjalanan bersama, hingga kami sampai di Madinah dan berbai’at kepada Nabi Selanjutnya aku menetap di Madinah bersama Nabi dan ikut dalam penaklukan kota Mekkah. Setelah memasuki kota
Mekkah beliau bersabda: “Hai Utsman, berikanlah kepadaku kunci Ka’bah!” Lalu aku berikan kepadanya dan beliaupun mengambilnya dariku. Kemudian diserahkan lagi kepadaku, seraya bersabda:”Peganglah jabatan mengurus Ka’bah ini wahai Bani Thalhah!, Kekal selamanya, dan siapa yang merampasnya dari kalian berarti mereka orang yang dzalim.”
Ibnu Abbas -Se berkata: “Ketika Rasulullah meminta kunci Ka ‘bah dari Utsman, ia telah menghulurkan tangannya kepada beliau. Lalu Abbas berkata: “Demi ayah dan ibuku! Gabungkan jabatan urusan Ka’bah dan memberi minum jema’ah haji kepadaku”. Lalu Utsman menarik kembali tangannya khawatir Nabi memberikannya kepada Abbas, maka Nabi bersabda: “Berikanlah kunci itu kepadaku!”.
Dan Abbas mengulangi perkataannya dan Utsmanpun menahan tangannya, maka Nabi bersabda: “Berikan kuncinya kepadaku jikaengkau beriman kepada Allah dan hari ahkhir.”
Lalu ia berkata: “Ini wahai Rasulullah dengan amanah Allah “, maka beliaupun mengambil kunci dan membuka Baitullah. Kemudian Jibril turun dengan membawa firman Allah JS, (Q.S; An Nisaa•: 58) :
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”.

Kemudian Utsman tetap memegang kunci Baitullah hingga ia wafat. Dan kunci Ka’bah diserahkan kepada sepupunya Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah. Selanjutnya jabatan penanggung jawab
Ka’bah berada di tangan putera-putera Syaibah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top