MASJID AL-AQSHA DI MASA AYYUBIYAH
(1187–1250 M)
Setelah Shalahuddin membebaskan Al-Quds, Dinasti Ayyubiyah mewarisi tanggung jawab besar: menjaga Al-Aqsha dari ancaman pasukan Salib dan perpecahan internal.
Meski diwarnai ujian politik dan perjanjian yang kontroversial, semangat pembebasan tak pernah padam.
📖 Sejarah mencatat:
Menjaga Al-Aqsha bukan hanya soal senjata, tapi juga ilmu, wakaf, dan kepemimpinan yang teguh.

“Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Ini adalah bunyi konstitusi negara kita. Ini kesepakatan kita bersama, apa pun agamanya, apa pun sukunya!”
“Nak, kita tidak membeli produk-produk yang berafiliasi dengan penjajah karena kita tidak ingin ada bagian uang kita yang digunakan untuk membunuhi saudara-saudara kita di Palestina.”
“Penjajah sengaja memerahkan bumi Palestina dengan darah anak-anak, darah kaum perempuan, darah kaum lemah dan renta karena menurut keyakinan mereka, itulah syarat agar pemimpin yang mereka tunggu di akhir zaman segera datang. Mereka juga berkeyakinan Masjid Al Aqsa harus diratakan untuk menyambut kedatangan pemimpin akhir zaman mereka, karenanya mereka sudah menyiapkan Haikal Sulaiman. Apakah kita rela dengan perilaku penjajah laknatullah semacam itu?”

“Shalahuddin Al Ayyubi dari Kurdi, Umar bin Khattab dari Arab Quraisy, Sultan Muhammad Al Fatih dari Turki. Mereka semua telah berhasil membebaskan dan menjaga keamanan Masjid Al Aqsa dan tanah Palestina. Hari ini Allah menghidupkan kita pada tahun ini untuk melanjutkan perjuangan karena bumi Palestina sedang menunggu kita, saudaranya dari negeri yang jauh, Indonesia!”
“Sejak subuh kita sudah ada yang berangkat ke sini, pada hari yang harusnya untuk family time, hari libur, tapi kita memilih berlelah-lelah dan berpanas-panas serta mengeluarkan sebagian harta kita demi mendukung perjuangan saudara-saudara kita di Palestina. Semoga setiap tetasan keringat kita hari ini menjadi saksi bahwa kita tidak diam! Semoga kelak kita bisa menjawab jika ditanya Allah di hari akhir: ‘Apa yang sudah kamu usahakan untuk saudara-saudaramu yang ditindas dan dilaparkan di Palestina?'”

“Tidak harus menjadi Islam untuk membela Palestina. Cukup menjadi manusia. Karena yang terjadi di sana adalah benar-benar tragedi kemanusiaan terbesar pada masa ini?”
“Pemerintah Indonesia akan terus menyuarakan pembelaannya secara resmi untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.”
Monumen Nasional (Monas)
