





“Dai Cerdas, Dakwah Berkualitas, Umat Bermartabat.”
I. LATAR BELAKANG
Perkembangan sosial, digitalisasi, serta kompleksitas permasalahan umat menuntut hadirnya dai yang tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga adaptif, komunikatif, strategis, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Dai hari ini bukan hanya pengisi mimbar.
Dai adalah pemimpin opini, penjaga persatuan umat, sekaligus agen transformasi sosial.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan:
Oleh karena itu diperlukan program pelatihan terstruktur pada level intermediate yang mampu meningkatkan kualitas dan profesionalitas dai secara sistematis.

II. DASAR PEMIKIRAN
III. TUJUAN PROGRAM
Tujuan Umum
Meningkatkan kapasitas dai intermediate agar mampu berdakwah secara strategis, profesional, dan berdampak luas di masyarakat.
Tujuan Khusus

V. KURIKULUM PROGRAM
🔹 1. Mindset & Identitas Dai Strategis
🔹 2. Public Speaking for Dai
🔹 3. Komunikasi Berdampak
🔹 4. Sistematika Berpikir & Critical Thinking
🔹 5. Segmentasi & Targeting Jamaah
🔹 6. Dakwah Digital & Media Sosial
🔹 7. Manajemen Program Dakwah
🔹 8. Networking & Sinergi Umat
Kerjasama:
PTDI – DMI – DDII – IKADI – BAKORMUBIN – AKSI Training & Consulting

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِۦمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H
Referensi: https://tafsirweb.com/564-surat-al-baqarah-ayat-127.html

Tak terasa ramadhan cepat berlalu. Baru kemarin rasanya kita mulai berpuasa dan sekarang sdh merayakan hari raya Idul fithri.
Berlalunya Ramadhan harus disikapi dgn cara yang tepat, paling tidak dengan menghadirkan 2 hal berikut :
Didalam surah Al Baqarah ayat 127, Allah تعالى menceritakan apa yg dilakukan oleh Nabi Ibrahim setelah beliau membangun pondasi-pondasi ka’bah bersama puteranya,nabi Ismail. Beliau menengadahkan tangannya ke langit lalu berdoa kpd Allah :
ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم
“Ya Allah, terimalah amal ibadah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Wahib ibnul ward,saat beliau membaca ayat tersebut, beliau meneteskan air mata seraya berkata :
خليل الرحمن يرفع قوائم بيت الرحمن وهو مشفق ألا يتقبل منه
“Seorang kekasih Allah yg membangun pondasi rumah Allah (dengan perintah dri Allah) sedangkan beliau khawatir amalnya (berupa membangun ka’bah) tidak diterima oleh Allah”.
Jika seorang kekasih Allah saja khawatir amalnya tidak diterima,lalu bagaimana dgn kita??
Mari langitkan doa-doa kita agar Allah terima amal ibadah kita di bulan Ramadhan.


Puasa Syawal secara umum memiliki keutamaan seperti ibadah puasa lainnya, namun puasa Syawal juga memiliki keutamaan khusus, yaitu menyempurnakan ibadah puasa Ramadhan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang puasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh.” (HR. Muslim 1164)
Kenapa puasa Syawal dinilai berpuasa setahun? Jawabannya adalah hadits dari Tsauban radhiyallahu‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ، مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
“Barangsiapa berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Idul Fitri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas sepuluh kebaikan semisal.” (HR. Ibnu Majah 1715, dishahihkan oleh Al-Hafizh Abu Thohir)
Disebutkan bahwa setiap kebaikan akan dibalas minimal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan sebulan penuh akan dibalas dengan 10 bulan kebaikan puasa. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal akan dibalas minimal dengan 60 hari (2 bulan) kebaikan puasa. Jika dijumlah, seseorang sama saja melaksanakan puasa 10 bulan + 2 bulan sama dengan 12 bulan (1 tahun). Itulah mengapa orang yang melakukan puasa Syawal bisa mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh.
Menggabung niat puasa Syawal dengan Puasa lainnya
Rekomendasi puasa Syawal 1447 H:
1️⃣ Senin, 3 Syawal / 23 Maret 2026 (Syawal & Senin-Kamis)
2⃣ Kamis, 6 Syawal / 26 Maret 2026 (Syawal & Senin-Kamis)
3⃣ Senin, 10 Syawal / 30 Maret 2026 (Syawal & Senin-Kamis)
4⃣ Kamis, 13 Syawal / 2 April 2026 (Syawal, Senin-Kamis & Ayyamul Bidh)
5⃣ Jumat, 14 Syawal / 3 April 2026 (Syawal, Senin-Kamis & Ayyamul Bidh)
6⃣ Sabtu, 15 Syawal / 4 April 2026 (Syawal, Senin-Kamis & Ayyamul Bidh)
*Dan seterusnya, silakan dipilih menyesuaikan situasi dan kondisi yang dihadapi masing-masing.

Maksudnya niat adalah berkeinginan dalam hati akan melakukan suatu ibadah tanpa dilafazkan dengan ucapan niat tertentu. Terdapat kaidah yang diberikan para ulama dalam masalah menggabungkan niat:
إِذَا اتَّحَدَ جِنْسُ الْعِبَادَتَيْنِ وَأَحَدُهُمَا مُرَادٌ لِذَاتِهِ وَالْآخَرُ لَيْسَ مُرَادًا لِذَاتِهِ؛ فَإِنَّ الْعِبَادَتَيْنِ تَتَدَاخَلَانِ
“Jika ada dua ibadah yang sejenis, yang satu maqsudah li dzatiha dan satunya laisa maqsudah li dzatiha, maka dua ibadah ini memungkinkan untuk digabungkan.” (’Asyru Masail fi Shaum Sitt min Syawal, Dr. Abdul Aziz ar-Rais hal.17)
Hukumnya tidak boleh dan tidak sah, karena keduanya adalah ibadah yang maqsudah li dzatiha. Keduanya adalah ibadah yang berdiri sendiri, sehingga tidak sah jika digabungkan dalam satu niat.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Adapun jika anda puasa Syawal dengan menggabung niat puasa qadha dan puasa Syawal, maka saya memandang puasa Syawalnya tidak sah. Karena puasa Syawal membutuhkan niat khusus dan membutuhkan hari-hari yang khusus.” (www.binbaz.org.sa/noor/4607)
Hukumnya boleh dan sah, karena puasa Senin-Kamis adalah ibadah yang laisa maqsudah li dzatiha, yaitu ibadah yang disyariatkan bukan karena zatnya, namun karena diangkatnya amalan di hari itu sehingga dianjurkan berpuasa, apapun puasa yang dilakukannya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Jika puasa enam hari Syawal bertepatan dengan puasa Senin atau Kamis, maka puasa Syawal juga akan mendapatkan pahala puasa Senin, begitu pula puasa Senin atau Kamis akan mendapatkan ganjaran puasa Syawal. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ, ʼSesungguhnya setiap amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan pahala yang ia niatkanʼ.” (Fatawa Islamiyyah 2:154)
Hukumnya boleh dan sah, karena puasa Ayyamul Bidh adalah ibadah yang laisa maqsudah li dzatiha. Ketika seseorang melaksanakan puasa 3 hari dalam satu bulan, kapanpun harinya dan apapun jenis puasa yang ia lakukan (yang disyariatkan) maka ia sudah mendapatkan keutamaan puasa Ayyamul Bidh.
Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Jika seseorang berpuasa enam hari di bulan Syawal, gugur darinya tuntutan puasa ayyamul bidh. Baik ia puasa Syawal ketika al-bidh (bulan purnama sempurna), sebelumnya atau setelahnya, karena ia telah berpuasa tiga hari dalam satu bulan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ‘Nabi ﷺ biasa berpuasa tiga hari setiap bulan, tanpa peduli apakah itu awal bulan atau tengah bulan atau akhirnya’. Ini sejenis dengan gugurnya tuntutan shalat tahiyatul masjid dengan mengerjakan shalat rawatib jika seseorang masuk masjid.” (https://islamqa.info/ar/4015)

Keutamaan dan hikmah dari puasa Syawal
Semoga Allah memudahkan kita melakukan puasa Syawal dan menjadikan kita terus istiqomah melakukan amal ibadah lainnya.
اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً وَرِزْقاً طَيِّباً وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Majah 925, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

List building dalam dakwah Islam adalah strategi mengumpulkan data kontak (seperti email, nomor WhatsApp, atau Telegram) dari jamaah atau target audiens yang tertarik dengan konten dakwah, untuk kemudian dibina secara konsisten agar semakin dekat dengan nilai-nilai Islam. Ini adalah bentuk modern dari pendataan pengelompokan/segmentasi) untuk mempermudah komunikasi dan edukasi yang personal.





Sumber : ACHMAD SYARIF(Board of Director Pesantrenterbuka.id 2024-sekarang.)
Sabtu, 21 Desember 2024

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا۟ ۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُطَّهِّرِينَ
Artinya: Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.





Insyaa Alloh, Hari Selasa, 3 Maret 2026 akan terjadi fenomena alam luar biasa atas Kehendak dan Keagungan Allah bisa dilihat di seluruh wilayah Indonesia, yakni GERHANA BULAN TOTAL, mulai memasuki fase umbra (bulan gelap dan memerah) mulai pukul 16:50:00 WIB hingga 20:17:10 WIB.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wassallam bersabda :
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah.
(HR. Bukhari No. 1044)

Ketampakan Bulan diawali dari keadaan normal ke fase samar-samar dengan bercahaya redup mulai pukul 15:44:22 WIB (Bulan terbit dalam keadaan Gerhana menjelang Matahari terbenam— cek masing-masing lokasi), lalu dalam keadaan gelap memerah total puncaknya dapat dilihat pada awal malam (setelah matahari terbenam) di atas horizon timur pada pukul 18:34:52 WIB, hingga pada akhirnya Bulan memasuki fase samar-samar dengan bercahaya redup ke kembali keadaan normal pada saat Gerhana berakhir pukul 21:22:59 WIB.
Rangkaian Fase Gerhana: 1) Mulai Fase Awal Bayang-bayang Pebumbral: 15:44:22 WIB.
2) Fase Umbra (Gelap): 16:50:00 WIB hingga 20:17:10 WIB.
3) Akhir Rangkaian Gerhana: 21:22:59 WIB.
Seluruh Umat Islam disyari’atkan: 1) Mengumandangkan Bacaan Takbir dengan Memperbanyak Gema Takbir, Mengagungkan Asma Alloh, Lafadz dan lantunkan sebagaimana Takbir pada 2 Hari Raya dari Awal Gerhana hingga Gerhana Berakhir.
2) Mengumandangkan Bacaan Istighfar, Memohon Ampunan dan Maaf kepada Alloh.
3) Mengucapkan Asholaatu Jaami’ah.
4) Sholat Gerhana Bulan
5) Mendirikan dan Mendengarkan Khutbah Gerhana Bulan.
6) Bersodaqoh Gerhana
7) Melanjutkan Gema Takbir hingga akhir Gerhana terbuka kembali bercahaya normal.
Selama fase Gerhana, Gema Takbir Gerhana akan berkumandang serentak di seluruh Masjid yang ada di Indonesia melalui Radio dengan klik link berikut, lalu klik ON STREAMING: Seluruh Masjid, Musholla, disyari’atkan mengumandangkan Gema Takbir Gerhana.

Teknis Ibadah Gerhana Bulan Total di Bulan Ramadan 1447 H:
Teknis pelaksanaan takbir dimulai saat bulan terbit dalam keadaan gerhana bulan total, khusus daerah Jawa Barat/ Pulau Jawa—Kalimantan/ Waktu Indonesia Barat takbir dimulai menjelang magrib atau setelah pukul 17:15 WIB, dilanjutkan dengan adzan magrib, berbuka puasa (pertengahan Ramadan 1447 H), selesai sholat magrib melanjutkan gema takbir. Pelaksanaan sholat gerhana bulan, khutbah gerhana bulan dilaksanakan setelah adzan isya, dan sholat isya, sebelum sholat tarawih, dan witir. Setelah sholat tarawih—witir, seluruh umat Islam melanjutkan gema takbir hingga gerhana terbuka kembali (akhir gerhana).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda ,هَذِهِ الْآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ لَا تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ ؛ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ
”Tanda-tanda yang Allah kirimkan ini (yakni gerhana, pent), tidaklah terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun Allah hendak menakut-nakuti para hamba-Nya dengannya. Apabila kalian melihatnya, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan istighfar (memohon ampun) kepada-Nya” (HR. Bukhori dan Muslim).
Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan dari hadis ini, فيه الندب إلى الاستغفار عند الكسوف وغيره لأنه مما يدفع به البلاء “Hadits di atas terdapat anjuran untuk beristighfar ketika terjadi gerhana, atau yang lainnya. Karena istighfar adalah diantara sebab untuk menolak bala‘.” (Fathul Bari, 2/546)

Syaikh Ibnu Baz mengatakan, وما يقع من خسوف وكسوف في الشمس والقمر ونحو ذلك مما يبتلي الله به عباده هو تخويف منه سبحانه وتعالى وتحذير لعباده من التمادي في الطغيان، وحث لهم على الرجوع والإنابة إليه
“Kejadian gerhana bulan atau matahari, atau fenomena yang semisalnya, merupakan ujian Allah untuk hamba-hambaNya. Yaitu untuk menimbulkan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan peringatan kepada mereka dari berlarut-larut dalam kemaksiatan. Dan supaya mendorong mereka untuk kembali ke jalan Allah” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 9/157).
Sampai-sampai diceritakan oleh para sahabat, bagaimana ekspresi takut beliau –shallallahu ‘alaihi wassalam– ketika terjadi gerhana kala itu, فأخطأ بدرع حتى أُدرِك بردائه بعد ذلك “Sampai-sampai beliau keliru mengambil selendang salah satu istri beliau, kemudian setelah sadar, beliau mengenakan selendangnya” (HR. Muslim).
Imam Nawawi rahimahullah menerangkan makna perkataan di atas,
لشدة سرعته واهتمامه بذلك أراد أن يأخذ رداءه فأخذ درع بعض أهل البيت سهوا ولم يعلم ذلك لاشتغال قلبه بأمر الكسوف
“Karena saking buru-burunya dan konsentrasi beliau tertuju pada fenomena gerhana tersebut. Yakni beliau hendak mengambil selendangnya, namun ternyata yang keambil selendang milik sebagian istri beliau. Karena tidak sadar, disebabkan hati beliau disibukkan dengan peristiwa gerhana” (Al Minhaj 6/212).
Maka dari itu, gerhana bagi seorang mukmin selayaknya menimbulkan rasa takut, membuatnya berfikir akan adzab Allah, dan menyadarkan dirinya untuk segera bertaubat. Bukan ajang untuk hiburan, sekedar tontonan atau menganggapnya sebatas fenomena alam biasa; yang lumrah terjadi.
Imam Ibnu Kastir menasehatkan, ketika menafsirkan ayat, “Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) memperhatikan bahwa mereka selalu ditimpa bencana sekali atau dua kali setiap tahun?! Namun mereka tidak (juga) mau bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran.” (QS. At Taubah: 126).
Gerhana Bulan Total terjadi di Bulan Ramadhan, menjelang magrib hingga pukul 21:22:59 WIB. Gerhana dapat memicu pasang air/gelombang laut, danau, dan sungai, erupsi gunung berapi, pegeseran dan pergerakan lempeng bumi yang memicu gempa bumi, perubahan suhu/cuaca mendadak, dll. Oleh sebab itu disyari’atkan dengan adanya peristiwa alam ini kita memperbanyak istigfar, takbir, dan memohon keselamatan.
▶▶ Silakan Share kepada Seluruh Ta’mir Pengurus Masjid, Mu’adzin, Sahabat, dan Keluarga.
Sumber: Almanak Astronomi/ Kalender Hijriyah/ Kalender Hisab-Rukyat.

Bersungguh-sungguh dalam Shalat Malam (Tarawih), Terutama di Sepuluh Malam Terakhir
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: إذا دخل العشر شد مئزره وأحياَ-ص َ ل َّ ى َّللا َّ ُ ع َ ل َ ي ْ ه ِ و َ س َ ل َّم(كان النبيليله وأيقظ أهله
“Jika Rasulullah ﷺ memasuki sepuluh malam terakhir (Ramadan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah ﷺ juga bersabda: : (من قام رمضان إيمانا ً واحتسابا ً غفر له ما تقد َّ م من ذنب
“Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya
yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)



Ramadhan adalah momentum istimewa bagi setiap muslim untuk memperbanyak amal shalih, mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta memperbaiki hubungan sesama manusia. Oleh karena itu, kami berupaya menghadirkan lingkungan yang kondusif bagi jamaah untuk mengisi setiap hari dengan kegiatan yang menenangkan jiwa dan menguatkan iman.
Di sepanjang bulan suci ini, masjid mengadakan berbagai bentuk kegiatan, mulai dari pelaksanaan shalat Tarawih dan witir berjamaah, kajian ba’da Subuh dan ba’da Dzuhur, hingga majlis tadabbur Al-Qur’an yang bertujuan membantu jamaah memahami makna ayat-ayat suci dengan lebih mendalam. Selain itu, kami juga menyediakan program buka puasa bersama, yang terbuka bagi jamaah umum, sebagai wujud syiar kebersamaan dan kepedulian antar sesama.Seluruh rangkain acara di bulan Romadhon tersebut diatas akan dilaksanakan dengan standar prosedur melalui tahapan sebagai berikut :
Perencanaan Program Ramadhan:
Pelaksanaan Program Ramadhan:

Evaluasi Program Ramadhan:
Rutinitas Harian/Mingguan
Dokumentasi

Evaluasi
Catatan:
Tambahan:
Penutup:
Prosedur perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi bagi Tim Ramadhan Masjid ini dapat menjadi acuan bagi masjid dalam menyelenggarakan program Ramadhan. Diharapkan dengan program Ramadhan di masjid dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh umat Islam.