Kategori: baitullah

  • DAI STRATEGIC LEADERSHIP PROGRAM

    DAI STRATEGIC LEADERSHIP PROGRAM

    “Dai Cerdas, Dakwah Berkualitas, Umat Bermartabat.”


    I. LATAR BELAKANG

    Perkembangan sosial, digitalisasi, serta kompleksitas permasalahan umat menuntut hadirnya dai yang tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga adaptif, komunikatif, strategis, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

    Dai hari ini bukan hanya pengisi mimbar.
    Dai adalah pemimpin opini, penjaga persatuan umat, sekaligus agen transformasi sosial.

    Namun, realitas di lapangan menunjukkan:

    • Dakwah belum sepenuhnya berbasis kebutuhan jamaah
    • Banyak dai belum menguasai teknik komunikasi modern
    • Kurangnya sistem pembinaan berjenjang bagi dai
    • Minimnya ekosistem praktik & mentoring

    Oleh karena itu diperlukan program pelatihan terstruktur pada level intermediate yang mampu meningkatkan kualitas dan profesionalitas dai secara sistematis.

    II. DASAR PEMIKIRAN

    1. Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman dakwah.
    2. Kebutuhan penguatan kapasitas dai dalam konteks modern.
    3. Pentingnya standarisasi kompetensi dai tingkat nasional.
    4. Sinergi antar lembaga dakwah dalam penguatan SDM.

    III. TUJUAN PROGRAM

    Tujuan Umum

    Meningkatkan kapasitas dai intermediate agar mampu berdakwah secara strategis, profesional, dan berdampak luas di masyarakat.

    Tujuan Khusus

    1. Meningkatkan kemampuan komunikasi publik dai
    2. Menguatkan pola pikir sistematis dan analitis
    3. Membekali teknik segmentasi jamaah
    4. Menguatkan kemampuan manajemen program dakwah
    5. Membentuk jejaring dai nasional

    V. KURIKULUM PROGRAM

    🔹 1. Mindset & Identitas Dai Strategis

    • Peran dai dalam peradaban modern
    • Dakwah sebagai gerakan transformasi sosial
    • Leadership spiritual
    • Etika & adab berdakwah

    🔹 2. Public Speaking for Dai

    • Struktur khutbah & ceramah yang impactful
    • Teknik vokal & intonasi
    • Body language & stage presence
    • Storytelling Qur’ani & Nabawi
    • Teknik membuka & menutup yang menghantam

    🔹 3. Komunikasi Berdampak

    • Komunikasi empatik
    • Menghadapi audiens kritis
    • Mengelola pertanyaan sulit
    • Dakwah yang menyejukkan, bukan memecah

    🔹 4. Sistematika Berpikir & Critical Thinking

    • Logical flow dalam ceramah
    • Membedakan opini & dalil
    • Menghindari logical fallacy
    • Framework berpikir strategis

    🔹 5. Segmentasi & Targeting Jamaah

    • Dakwah untuk Gen Z
    • Dakwah untuk keluarga
    • Dakwah untuk profesional
    • Dakwah untuk komunitas marginal
    • Membaca kebutuhan sosial lokal

    🔹 6. Dakwah Digital & Media Sosial

    • Personal branding dai
    • Dakwah di Instagram, YouTube, TikTok
    • Teknik membuat konten singkat yang bernas
    • Menghindari kontroversi digital

    🔹 7. Manajemen Program Dakwah

    • Membuat roadmap dakwah masjid
    • Event planning sederhana
    • Mengelola relawan
    • Fundraising & sustainability

    🔹 8. Networking & Sinergi Umat

    • Kolaborasi antar masjid
    • Sinergi komunitas
    • Membangun jejaring dakwah regional

    Kerjasama:
    PTDI – DMI – DDII – IKADI – BAKORMUBIN – AKSI Training & Consulting

  • LAKUKAN DUA HAL INI SETELAH ROMADHAN

    LAKUKAN DUA HAL INI SETELAH ROMADHAN

    وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِۦمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
    Artinya: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

    tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H

    1. Maknanya, ingatlah saat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun kembali pondasi-pondasi baitullah dan kesinambungan keduanya terhadap pekerjaan yang agung tersebut, dan bagaimana kondisi mereka berdua dalam rasa kekhawatiran dan pengharapan, hingga mereka berdua berdoa kepada Allah disamping bekerja agar Allah menerima perbuatan mereka berdua dan agar Allah menjadikan padanya manfaat yang luas.

    Referensi: https://tafsirweb.com/564-surat-al-baqarah-ayat-127.html

    Tak terasa ramadhan cepat berlalu. Baru kemarin rasanya kita mulai berpuasa dan sekarang sdh merayakan hari raya Idul fithri.
    Berlalunya Ramadhan harus disikapi dgn cara yang tepat, paling tidak dengan menghadirkan 2 hal berikut :

    1. Memperbanyak do’a agar amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima oleh Allah عز وجل

    Didalam surah Al Baqarah ayat 127, Allah تعالى menceritakan apa yg dilakukan oleh Nabi Ibrahim setelah beliau membangun pondasi-pondasi ka’bah bersama puteranya,nabi Ismail. Beliau menengadahkan tangannya ke langit lalu berdoa kpd Allah :
    ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم
    “Ya Allah, terimalah amal ibadah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    Wahib ibnul ward,saat beliau membaca ayat tersebut, beliau meneteskan air mata seraya berkata :
    خليل الرحمن يرفع قوائم بيت الرحمن وهو مشفق ألا يتقبل منه
    “Seorang kekasih Allah yg membangun pondasi rumah Allah (dengan perintah dri Allah) sedangkan beliau khawatir amalnya (berupa membangun ka’bah) tidak diterima oleh Allah”.

    Jika seorang kekasih Allah saja khawatir amalnya tidak diterima,lalu bagaimana dgn kita??
    Mari langitkan doa-doa kita agar Allah terima amal ibadah kita di bulan Ramadhan.

    1. Berusaha mengistiqomahkan amal ibadah yg sdh dirutinkan di bulan Ramadhan. Karena mengiringi suatu ibadah dgn ibadah yg lain setelahnya adalah tanda bahwa ibadah kita diterima oleh Allah تعالى.
      Sebagaimana yg disampaikan oleh Ibnu Rajab رحمه الله :
      ثواب الحسنة الحسنة بعدها ، فمن عمل حسنة ثم أتبعها بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى
      “Balasan dri kebaikan adalah (melakukan) kebaikan yg lain setelahnya. Barangsiapa yg melakukan kebaikan lalu melanjutkan dgn kebaikan lainnya, maka hal tsb adalah pertanda bahwa kebaikannya yg pertama diterima (oleh Allah تعالى)”.
      Dan kebaikan yg terdekat yg bisa kita amalkan utk mengiringi ibadah kita di bulan Ramadhan adalah dg berpuasa 6 hari di bulan Syawwal. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :
      من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر
      “Barangsiapa yg berpuasa di bulan Ramadhan lalu ia iringi dgn berpuasa 6 hari di bulan Syawwal maka ia mendapatkan pahala seperti berpuasa setahun penuh”. (H.R.Muslim dari Abu Ayyub Al Anshari).
  • REKOMENDASI PUASA SYAWAL 1447 H

    REKOMENDASI PUASA SYAWAL 1447 H

    Puasa Syawal secara umum memiliki keutamaan seperti ibadah puasa lainnya, namun puasa Syawal juga memiliki keutamaan khusus, yaitu menyempurnakan ibadah puasa Ramadhan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh. Rasulullah ﷺ bersabda:

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

    “Barangsiapa yang puasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh.” (HR. Muslim 1164)

    Kenapa puasa Syawal dinilai berpuasa setahun? Jawabannya adalah hadits dari Tsauban radhiyallahu‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

    مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ، مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

    “Barangsiapa berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Idul Fitri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas sepuluh kebaikan semisal.” (HR. Ibnu Majah 1715, dishahihkan oleh Al-Hafizh Abu Thohir)

    Disebutkan bahwa setiap kebaikan akan dibalas minimal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan sebulan penuh akan dibalas dengan 10 bulan kebaikan puasa. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal akan dibalas minimal dengan 60 hari (2 bulan) kebaikan puasa. Jika dijumlah, seseorang sama saja melaksanakan puasa 10 bulan + 2 bulan sama dengan 12 bulan (1 tahun). Itulah mengapa orang yang melakukan puasa Syawal bisa mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh.

    Menggabung niat puasa Syawal dengan Puasa lainnya

    Rekomendasi puasa Syawal 1447 H:
    1️⃣ Senin, 3 Syawal / 23 Maret 2026 (Syawal & Senin-Kamis)
    2⃣ Kamis, 6 Syawal / 26 Maret 2026 (Syawal & Senin-Kamis)
    3⃣ Senin, 10 Syawal / 30 Maret 2026 (Syawal & Senin-Kamis)
    4⃣ Kamis, 13 Syawal / 2 April 2026 (Syawal, Senin-Kamis & Ayyamul Bidh)
    5⃣ Jumat, 14 Syawal / 3 April 2026 (Syawal, Senin-Kamis & Ayyamul Bidh)
    6⃣ Sabtu, 15 Syawal / 4 April 2026 (Syawal, Senin-Kamis & Ayyamul Bidh)

    *Dan seterusnya, silakan dipilih menyesuaikan situasi dan kondisi yang dihadapi masing-masing.

    Maksudnya niat adalah berkeinginan dalam hati akan melakukan suatu ibadah tanpa dilafazkan dengan ucapan niat tertentu. Terdapat kaidah yang diberikan para ulama dalam masalah menggabungkan niat:

    إِذَا اتَّحَدَ جِنْسُ الْعِبَادَتَيْنِ وَأَحَدُهُمَا مُرَادٌ لِذَاتِهِ وَالْآخَرُ لَيْسَ مُرَادًا لِذَاتِهِ؛ فَإِنَّ الْعِبَادَتَيْنِ تَتَدَاخَلَانِ

    “Jika ada dua ibadah yang sejenis, yang satu maqsudah li dzatiha dan satunya laisa maqsudah li dzatiha, maka dua ibadah ini memungkinkan untuk digabungkan.” (’Asyru Masail fi Shaum Sitt min Syawal, Dr. Abdul Aziz ar-Rais hal.17)

    1. Menggabung puasa Syawal dengan qadha puasa Ramadhan

    Hukumnya tidak boleh dan tidak sah, karena keduanya adalah ibadah yang maqsudah li dzatiha. Keduanya adalah ibadah yang berdiri sendiri, sehingga tidak sah jika digabungkan dalam satu niat.

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Adapun jika anda puasa Syawal dengan menggabung niat puasa qadha dan puasa Syawal, maka saya memandang puasa Syawalnya tidak sah. Karena puasa Syawal membutuhkan niat khusus dan membutuhkan hari-hari yang khusus.” (www.binbaz.org.sa/noor/4607)

    1. Menggabung puasa Syawal dengan puasa Senin-Kamis

    Hukumnya boleh dan sah, karena puasa Senin-Kamis adalah ibadah yang laisa maqsudah li dzatiha, yaitu ibadah yang disyariatkan bukan karena zatnya, namun karena diangkatnya amalan di hari itu sehingga dianjurkan berpuasa, apapun puasa yang dilakukannya.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Jika puasa enam hari Syawal bertepatan dengan puasa Senin atau Kamis, maka puasa Syawal juga akan mendapatkan pahala puasa Senin, begitu pula puasa Senin atau Kamis akan mendapatkan ganjaran puasa Syawal. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ, ʼSesungguhnya setiap amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan pahala yang ia niatkanʼ.” (Fatawa Islamiyyah 2:154)

    1. Menggabung puasa Syawal dengan puasa Ayyamul Bidh

    Hukumnya boleh dan sah, karena puasa Ayyamul Bidh adalah ibadah yang laisa maqsudah li dzatiha. Ketika seseorang melaksanakan puasa 3 hari dalam satu bulan, kapanpun harinya dan apapun jenis puasa yang ia lakukan (yang disyariatkan) maka ia sudah mendapatkan keutamaan puasa Ayyamul Bidh.

    Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Jika seseorang berpuasa enam hari di bulan Syawal, gugur darinya tuntutan puasa ayyamul bidh. Baik ia puasa Syawal ketika al-bidh (bulan purnama sempurna), sebelumnya atau setelahnya, karena ia telah berpuasa tiga hari dalam satu bulan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ‘Nabi ﷺ biasa berpuasa tiga hari setiap bulan, tanpa peduli apakah itu awal bulan atau tengah bulan atau akhirnya’. Ini sejenis dengan gugurnya tuntutan shalat tahiyatul masjid dengan mengerjakan shalat rawatib jika seseorang masuk masjid.” (https://islamqa.info/ar/4015)

    Keutamaan dan hikmah dari puasa Syawal

    1. Puasa Syawal menyempurnakan pahala puasa Ramadhan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh.
    2. Puasa Syawal dan puasa Sya’ban sebagaimana salat sunah rawatib sebelum dan sesudah salat, ia menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada pada ibadah yang wajib. Karena ibadah-ibadah wajib akan disempurnakan dengan ibadah-ibadah sunah pada hari kiamat kelak. Kebanyakan orang, puasa Ramadhan-nya mengandung kekurangan dan cacat, maka membutuhkan amalan-amalan yang bisa menyempurnakannya.
    3. Kembali puasa selepas puasa Ramadhan adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena ketika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberikan ia taufik untuk melakukan amalan shalih selanjutnya. Sebagaimana perkataan sebagian salaf: “Balasan dari kebaikan adalah (diberi taufik untuk melakukan) kebaikan selanjutnya.”
    4. Orang-orang yang berpuasa Ramadan disempurnakan pahalanya di hari Idul Fitri dan diampuni dosa-dosanya. Maka hari Idul Fitri adalah hari pemberian ganjaran kebaikan. Sehingga puasa setelah hari Idul Fitri adalah bentuk syukur atas nikmat tersebut. Sedangkan tidak ada nikmat yang lebih besar selain pahala dan ampunan dari Allah Ta’ala.

    Semoga Allah memudahkan kita melakukan puasa Syawal dan menjadikan kita terus istiqomah melakukan amal ibadah lainnya.

    اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً وَرِزْقاً طَيِّباً وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

    “Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Majah 925, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

  • LIST BUILDING DAKWAH MEMBANGUN BASIS AUDIENS UMAT

    LIST BUILDING DAKWAH MEMBANGUN BASIS AUDIENS UMAT

    List building dalam dakwah Islam adalah strategi mengumpulkan data kontak (seperti email, nomor WhatsApp, atau Telegram) dari jamaah atau target audiens yang tertarik dengan konten dakwah, untuk kemudian dibina secara konsisten agar semakin dekat dengan nilai-nilai Islam. Ini adalah bentuk modern dari pendataan pengelompokan/segmentasi) untuk mempermudah komunikasi dan edukasi yang personal. 

    Sumber : ACHMAD SYARIF(Board of Director Pesantrenterbuka.id 2024-sekarang.)
    Sabtu, 21 Desember 2024

  • MASJID INOVATIF MELAHIRKAN SOLUSI BAGI UMAT

    MASJID INOVATIF MELAHIRKAN SOLUSI BAGI UMAT

    لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا۟ ۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُطَّهِّرِينَ

    Artinya: Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.

  • BERTAKBIRLAH, SHOLATLAH DAN BERSEDEKAHLAH SAAT GERHANA BULAN TOTAL

    BERTAKBIRLAH, SHOLATLAH DAN BERSEDEKAHLAH SAAT GERHANA BULAN TOTAL

    • INFO GERHANA BULAN TOTAL REMINDER *

    Insyaa Alloh, Hari Selasa, 3 Maret 2026 akan terjadi fenomena alam luar biasa atas Kehendak dan Keagungan Allah bisa dilihat di seluruh wilayah Indonesia, yakni GERHANA BULAN TOTAL, mulai memasuki fase umbra (bulan gelap dan memerah) mulai pukul 16:50:00 WIB hingga 20:17:10 WIB.

    Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wassallam bersabda :
    إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
    Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah.
    (HR. Bukhari No. 1044)

    Ketampakan Bulan diawali dari keadaan normal ke fase samar-samar dengan bercahaya redup mulai pukul 15:44:22 WIB (Bulan terbit dalam keadaan Gerhana menjelang Matahari terbenam— cek masing-masing lokasi), lalu dalam keadaan gelap memerah total puncaknya dapat dilihat pada awal malam (setelah matahari terbenam) di atas horizon timur pada pukul 18:34:52 WIB, hingga pada akhirnya Bulan memasuki fase samar-samar dengan bercahaya redup ke kembali keadaan normal pada saat Gerhana berakhir pukul 21:22:59 WIB.

    Rangkaian Fase Gerhana: 1) Mulai Fase Awal Bayang-bayang Pebumbral: 15:44:22 WIB.
    2) Fase Umbra (Gelap): 16:50:00 WIB hingga 20:17:10 WIB.
    3) Akhir Rangkaian Gerhana: 21:22:59 WIB.

    Seluruh Umat Islam disyari’atkan: 1) Mengumandangkan Bacaan Takbir dengan Memperbanyak Gema Takbir, Mengagungkan Asma Alloh, Lafadz dan lantunkan sebagaimana Takbir pada 2 Hari Raya dari Awal Gerhana hingga Gerhana Berakhir.
    2) Mengumandangkan Bacaan Istighfar, Memohon Ampunan dan Maaf kepada Alloh.
    3) Mengucapkan Asholaatu Jaami’ah.
    4) Sholat Gerhana Bulan
    5) Mendirikan dan Mendengarkan Khutbah Gerhana Bulan.
    6) Bersodaqoh Gerhana
    7) Melanjutkan Gema Takbir hingga akhir Gerhana terbuka kembali bercahaya normal.

    Selama fase Gerhana, Gema Takbir Gerhana akan berkumandang serentak di seluruh Masjid yang ada di Indonesia melalui Radio dengan klik link berikut, lalu klik ON STREAMING: Seluruh Masjid, Musholla, disyari’atkan mengumandangkan Gema Takbir Gerhana.

    Teknis Ibadah Gerhana Bulan Total di Bulan Ramadan 1447 H:

    Teknis pelaksanaan takbir dimulai saat bulan terbit dalam keadaan gerhana bulan total, khusus daerah Jawa Barat/ Pulau Jawa—Kalimantan/ Waktu Indonesia Barat takbir dimulai menjelang magrib atau setelah pukul 17:15 WIB, dilanjutkan dengan adzan magrib, berbuka puasa (pertengahan Ramadan 1447 H), selesai sholat magrib melanjutkan gema takbir. Pelaksanaan sholat gerhana bulan, khutbah gerhana bulan dilaksanakan setelah adzan isya, dan sholat isya, sebelum sholat tarawih, dan witir. Setelah sholat tarawih—witir, seluruh umat Islam melanjutkan gema takbir hingga gerhana terbuka kembali (akhir gerhana).

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda ,هَذِهِ الْآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ لَا تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ ؛ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

    ”Tanda-tanda yang Allah kirimkan ini (yakni gerhana, pent), tidaklah terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun Allah hendak menakut-nakuti para hamba-Nya dengannya. Apabila kalian melihatnya, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan istighfar (memohon ampun) kepada-Nya” (HR. Bukhori dan Muslim).

    Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan dari hadis ini, فيه الندب إلى الاستغفار عند الكسوف وغيره لأنه مما يدفع به البلاء “Hadits di atas terdapat anjuran untuk beristighfar ketika terjadi gerhana, atau yang lainnya. Karena istighfar adalah diantara sebab untuk menolak bala‘.” (Fathul Bari, 2/546)

    Syaikh Ibnu Baz mengatakan, وما يقع من خسوف وكسوف في الشمس والقمر ونحو ذلك مما يبتلي الله به عباده هو تخويف منه سبحانه وتعالى وتحذير لعباده من التمادي في الطغيان، وحث لهم على الرجوع والإنابة إليه

    “Kejadian gerhana bulan atau matahari, atau fenomena yang semisalnya, merupakan ujian Allah untuk hamba-hambaNya. Yaitu untuk menimbulkan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan peringatan kepada mereka dari berlarut-larut dalam kemaksiatan. Dan supaya mendorong mereka untuk kembali ke jalan Allah” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 9/157).

    Sampai-sampai diceritakan oleh para sahabat, bagaimana ekspresi takut beliau –shallallahu ‘alaihi wassalam– ketika terjadi gerhana kala itu, فأخطأ بدرع حتى أُدرِك بردائه بعد ذلك “Sampai-sampai beliau keliru mengambil selendang salah satu istri beliau, kemudian setelah sadar, beliau mengenakan selendangnya” (HR. Muslim).

    Imam Nawawi rahimahullah menerangkan makna perkataan di atas,

    لشدة سرعته واهتمامه بذلك أراد أن يأخذ رداءه فأخذ درع بعض أهل البيت سهوا ولم يعلم ذلك لاشتغال قلبه بأمر الكسوف

    “Karena saking buru-burunya dan konsentrasi beliau tertuju pada fenomena gerhana tersebut. Yakni beliau hendak mengambil selendangnya, namun ternyata yang keambil selendang milik sebagian istri beliau. Karena tidak sadar, disebabkan hati beliau disibukkan dengan peristiwa gerhana” (Al Minhaj 6/212).

    Maka dari itu, gerhana bagi seorang mukmin selayaknya menimbulkan rasa takut, membuatnya berfikir akan adzab Allah, dan menyadarkan dirinya untuk segera bertaubat. Bukan ajang untuk hiburan, sekedar tontonan atau menganggapnya sebatas fenomena alam biasa; yang lumrah terjadi.

    Imam Ibnu Kastir menasehatkan, ketika menafsirkan ayat, “Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) memperhatikan bahwa mereka selalu ditimpa bencana sekali atau dua kali setiap tahun?! Namun mereka tidak (juga) mau bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran.” (QS. At Taubah: 126).

    Gerhana Bulan Total terjadi di Bulan Ramadhan, menjelang magrib hingga pukul 21:22:59 WIB. Gerhana dapat memicu pasang air/gelombang laut, danau, dan sungai, erupsi gunung berapi, pegeseran dan pergerakan lempeng bumi yang memicu gempa bumi, perubahan suhu/cuaca mendadak, dll. Oleh sebab itu disyari’atkan dengan adanya peristiwa alam ini kita memperbanyak istigfar, takbir, dan memohon keselamatan.

    ▶▶ Silakan Share kepada Seluruh Ta’mir Pengurus Masjid, Mu’adzin, Sahabat, dan Keluarga.

    Sumber: Almanak Astronomi/ Kalender Hijriyah/ Kalender Hisab-Rukyat.

  • PENYELENGGARAAN SHALAT TARAWIH DI MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR

    PENYELENGGARAAN SHALAT TARAWIH DI MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR

    Pedoman Penyelenggaraan Shalat Tarawih di Masjid

    Bersungguh-sungguh dalam Shalat Malam (Tarawih), Terutama di Sepuluh Malam Terakhir
    Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: إذا دخل العشر شد مئزره وأحياَ-ص َ ل َّ ى َّللا َّ ُ ع َ ل َ ي ْ ه ِ و َ س َ ل َّم(كان النبيليله وأيقظ أهله

    “Jika Rasulullah ﷺ memasuki sepuluh malam terakhir (Ramadan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Rasulullah ﷺ juga bersabda: : (من قام رمضان إيمانا ً واحتسابا ً غفر له ما تقد َّ م من ذنب
    “Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya
    yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    1. Tujuan

    • Menyelenggarakan shalat Tarawih dengan tertib, khusyuk, dan berjamaah.
    • Meningkatkan keimanan dan ketakwaan umat Islam selama bulan Ramadhan.
    • Menjalin ukhuwah Islamiyah di antara jamaah masjid.

    2. Waktu Pelaksanaan

    • Shalat Tarawih dilaksanakan setiap malam bulan Ramadhan, setelah shalat Isya’ dan sebelum shalat Witir.
    • Waktu dimulainya shalat Tarawih dapat disesuaikan dengan kondisi setempat, umumnya dimulai sekitar pukul 20.30 – 21.00 WIB.

    3. Jumlah Rakaat

    • Shalat Tarawih dianjurkan dilakukan dengan 8 rakaat, ditambah 3 rakaat shalat Witir, atau sesuai dengan pendapat yang dipilih di masing-masing masjid.
    • Masjid dapat menyesuaikan jumlah rakaat shalat Tarawih berdasarkan kesepakatan jamaah.
    • Dianjurkan untuk shalat Tarawih dengan jumlah rakaat yang sama setiap malamnya.

    4. Imam dan Muadzin

    • Masjid menunjuk imam yang memiliki bacaan Al-Qur’an yang baik dan fasih.
    • Dianjurkan untuk bergantian imam setiap beberapa malam.
    • Masjid menunjuk muadzin untuk mengumandangkan adzan dan iqamah.

    5. Bacaan Al-Qur’an

    • Imam membaca surat Al-Fatihah pada setiap rakaat.
    • Pada setiap rakaat, imam dapat membaca surat-surat pendek atau ayat yg dia kehendaki.
    • Dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tajwid yang baik.

    6. Ibadah Lain

    • Setelah shalat Tarawih, dapat diisi dengan kegiatan ibadah lain, seperti: Tausiyah singkat. Tadarus Al-Qur’an ersama.Dll. Kegiatan tambahan tersebut tidak boleh mengganggu kekhusyukan shalat Tarawih.

    7. Tata Tertib

    • Jamaah diharapkan hadir tepat waktu dan berpakaian sopan dan syar’i.
    • Menjaga ketenangan dan kekhusyukan shalat.
    • Mematikan ponsel atau mengatur dalam mode senyap.
    • Menjaga kebersihan dan ketertiban masjid.

    8. Hal-hal Lain

    • Pedoman ini dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebiasaan setempat.
    • Masjid dapat berkoordinasi dengan pihak terkait untuk kelancaran pelaksanaan shalat Tarawih.
    • Semoga ibadah shalat Tarawih kita diterima Allah dan menjadi amal shalih di bulan Ramadhan.
    • Pedoman ini hanya sebagai panduan umum.
    • Untuk aturan yang lebih detail dapat merujuk kepada fatwa dari MUI atau ulama setempat.
  • PROSEDUR RENCANA,PELAKSANAAN DAN EVALUASI PROGRAM RAMADHAN MASJID

    PROSEDUR RENCANA,PELAKSANAAN DAN EVALUASI PROGRAM RAMADHAN MASJID

    Ramadhan adalah momentum istimewa bagi setiap muslim untuk memperbanyak amal shalih, mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta memperbaiki hubungan sesama manusia. Oleh karena itu, kami berupaya menghadirkan lingkungan yang kondusif bagi jamaah untuk mengisi setiap hari dengan kegiatan yang menenangkan jiwa dan menguatkan iman.

    Di sepanjang bulan suci ini, masjid mengadakan berbagai bentuk kegiatan, mulai dari pelaksanaan shalat Tarawih dan witir berjamaahkajian ba’da Subuh dan ba’da Dzuhur, hingga majlis tadabbur Al-Qur’an yang bertujuan membantu jamaah memahami makna ayat-ayat suci dengan lebih mendalam. Selain itu, kami juga menyediakan program buka puasa bersama, yang terbuka bagi jamaah umum, sebagai wujud syiar kebersamaan dan kepedulian antar sesama.Seluruh rangkain acara di bulan Romadhon tersebut diatas akan dilaksanakan dengan standar prosedur melalui tahapan sebagai berikut :

    Perencanaan Program Ramadhan:

    • Setidaknya 3 bulan sebelum Ramadhan, Tim Ramadhan mulai melakukan rapat perencanaan.
    • Menentukan tema dan fokus kegiatan berdasarkan kebutuhan jamaah.
    • Menyusun anggaran dan jadwal kegiatan yang realistis.
    • Merekrut dan menugaskan personel tim yang kompeten dan berpengalaman.
    • Mempersiapkan tempat dan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan program.
    • Melakukan promosi dan publikasi program melalui berbagai media.

    Pelaksanaan Program Ramadhan:

    • Melakukan koordinasi dengan semua pihak yang terlibat, seperti:
    • Imam dan petugas shalat Tarawih, Pembaca dan pembimbing Tadarus Al-Qur’an, Pemateri Kajian Ramadhan, Penyedia dan pengelola konsumsi buka puasa Amil Zakat Fitrah , Mengatur logistik dan memastikan kelancaran program., Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program secara berkala.

    Evaluasi Program Ramadhan:

    • Setelah Ramadhan selesai, Tim Ramadhan melakukan evaluasi program.
    • Melakukan analisis SWOT untuk mengidentifikasi strengths, weaknesses, opportunities, and threats.
    • Mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan program.
    • Merumuskan rekomendasi untuk perbaikan di Ramadhan selanjutnya.

    Rutinitas Harian/Mingguan

    • Melakukan rapat koordinasi tim.
    • Memantau perkembangan persiapan program.
    • Melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait.
    • Mengevaluasi progress program.

    Dokumentasi

    • Menyimpan dokumentasi program Ramadhan dengan baik dan rapi.
    • Membuat laporan kegiatan dan keuangan program.

    Evaluasi

    • Melakukan evaluasi program dan kegiatan Tim Ramadhan secara berkala.
    • Melakukan perbaikan dan peningkatan program berdasarkan hasil evaluasi.
    • Menyesuaikan program dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.
    • Contoh Penerapan:
    • Tarawih: Menyusun jadwal shalat Tarawih, menyiapkan imam dan petugas, memastikan ketersediaan mukena dan sajadah.
    • Tadarus Al-Qur’an: Menyelenggarakan tadarus berkelompok dan individu, menyediakan mushaf Al-Qur’an, mengadakan pembinaan tilawah.
    • Kajian Ramadhan: Mengundang pemateri yang kompeten, menyediakan tempat dan konsumsi, melakukan publikasi dan pendaftaran.
    • Buka Puasa Bersama: Mencari donatur dan sponsor, menyiapkan tempat dan konsumsi, mengatur pelaksanaan buka puasa.
    • Zakat Fitrah: Menyiapkan tempat penyaluran zakat, mendata mustahik, melakukan penyaluran zakat secara amanah dan transparan.

    Catatan:

    • Contoh-contoh di atas hanya sebagai ilustrasi.
    • Masjid dapat mengembangkan program Ramadhan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi

    Tambahan:

    • Masjid dapat bekerja sama dengan lembaga lain, seperti:Lembaga Dakwah Islam, Badan Amil Zakat Nasional BAZNAS)Organisasi Pemuda Islam
    • Masjid dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk:Pendaftaran online kegiatan RamadhanPromosi dan publikasi program RamadhanPengumpulan dan penyaluran Zakat Fitrah

    Penutup:

    Prosedur perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi bagi Tim Ramadhan Masjid ini dapat menjadi acuan bagi masjid dalam menyelenggarakan program Ramadhan. Diharapkan dengan program Ramadhan di masjid dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh umat Islam.