Artinya: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.
Firman Allah: (Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (2)) yaitu sebagaimana Kami memberimu kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat, antara lain adalah sebuah sungai yang sifatnya telah disebutkan; maka kerjakanlah shalat yang diwajibkan dan shalat sunah serta kurbanmu. Maka sembahlah Dia semata, tidak ada sekutu bagiNya; dan sembelihlah kurbanmu dengan menyebut namaNya, tidak ada sekutu bagiNya.
Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku. hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan alam semesta (162) tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (163)) (Surah Al-An’am) Ibnu Abbas, ‘Ahta’, Mujahid, Ikrimah, dan Al-Hasan berkata bahwa yang dimaksud adalah menyembelih unta dan hewan lain semacamnya.
Demikian juga dikatakan Qatadah dan beberapa ulama dari kalangan ulama salaf. Hal ini berbeda keadaannya dengan orang-orang musyrik yang bersujud kepada selain Allah dan menyembelih dengan menyebut nama selain Dia. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan) (Surah Al-An’am: 121).
Pendapat yang benar adalah yang mengatakan, bahwa makna yang dimaksud dengan “an-nahr” adalah menyembelih hewan kurban Abu Ja’far bin Jarir berkata bahwa pendapat yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa maknanya adalah,”Jadikanlah shalatmu semuanya ikhlas hanya untuk Tuhanmu, bukan untuk berhala atau tandingan selain Dia. Demikian pula kurbanmu, jadikanlah hanya untuk Dia, bukan untuk berhala-berhala. sebagai syukurmu kepadaNya atas kemuliaan dan kebaikan yang Dia khususkan untukmu yang tidak ada tandingannya dan khusus untukmu. Pendapat yang dikatakan ini amat baik(Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur’an Univ Islam Madinah)
MUSYAWARAH PANITIA IDUL QURBAN 1446 H REMAJA ISLAM MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR (RISMAFA ) BERSAMA TAKMIR MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR
Dalam rangka Menyambut IEDUL ADHA 1446 H Perkenankan kami dari DKM Masjid Fatimah ingin mengajak Bapak/Ibu dan saudara untuk berpartisipasi melakukan kolektif Qurban yang berjenis sapi Bali atau sejenis dengan berat ± 285 kg dengan besaran harga patungan 3.100.000 / orang
Benefit / keuntungan yang di dapat berupa :
Mendapatkan 5 kg daging (bisa di mixs daging dg tulang)
Sudah termasuk : a. Biaya operasional b. Biaya Perawatan c. Biaya penyaluran
Lokasi masjid fatimah : https://maps.app.goo.gl/CzhqCW95j65uZSkg6
Info pendaftaran :
Simun abu affan 0813-1580-6779
Sriyanto abu abidah 0856-9357-0802
Abu Ahnaf sujiman 0812-9076-3346
Sarkawi 0813 9856 9093
Rek Pembayaran BSI 8530675110 a.n Masjid Fatimah
SAPI ADALAH SALAH SATU HEWAN YANG BOLEH DIJADIKAN QURBAN SELAIN KERBAU DAN KAMBING
SEKILAS TINJAUAN AL- QUR’AN DAN HADIS TENTANG QURBAN
Idul qurban atau Hari raya qurban di kenal dengan nama aslinya Idul Adha, selain juga sering disebut sebagai Lebaran Haji
Berikut nama -nama yang sering dikenal masyarakat luas diantaranya :
Hari Raya Kurban:Karena Idul Adha berpusat pada ritual penyembelihan hewan kurban, maka sering disebut sebagai Hari Raya Kurban.
Lebaran Haji:Idul Adha juga disebut Lebaran Haji karena perayaan ini bertepatan dengan puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah. Pada hari tersebut, para jamaah haji di seluruh dunia akan melaksanakan wukuf di Arafah, salah satu rukun haji yang paling penting.
Idul Nahr:Dalam bahasa Arab, Idul Adha juga disebut Idul Nahr, yang artinya hari raya penyembelihan.
Eid al-Adha:Dalam bahasa Inggris, Idul Adha disebut Eid al-Adha, yang berarti “festival pengorbanan”.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berqurban dengan dua gibas (domba jantan) berwarna putih yang bertanduk. Ketika menyembelih beliau mengucapkan nama Allah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kedua kakinya di pipi kedua gibas tersebut (saat menyembelih).” Dalam lafazh lain disebutkan bahwa beliau menyembelihnya dengan tangannya (Muttafaqun ‘alaih). Dalam lafazh lain disebutkan, “Saminain, artinya dua gibas gemuk.” Dalam lafazh Abu ‘Awanah dalam kitab Shahihnya dengan lafazh, “Tsaminain, artinya gibas yang istimewa (berharga).” (HR. Bukhari, no. 5565; Muslim, no. 1966)
عن جابربن عبدالله رضي اللَّه عنه قال : نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ ، وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ .
Dari riwayat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Kami berkurban bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada tahun perjanjian Hudaibiyah dengan badanah (unta gemuk) untuk tujuh orang, dan sapi juga untuk tujuh orang.” (HR. Muslim)
Pelajaran yang terdapat di dalam hadist :
1- Adapun hewan yang dibolehkan untuk kurban adalah dari jenis Al-An’am saja, yaitu unta, sapi dan kambing. Selain dari 3 jenis hewan di atas maka kurban tidak boleh dan tidak sah. Kemudian hewan yang dibolehkan untuk kurban harus cukup umur. 2- Sebagaimana kita ketahui bahwa kewan kurban hanya ada tiga jenis yang disebut dengan “bahimatul an’am” yaitu unta, sapi dan kambing. Selain tiga hewan ini, tidak sah kurban yang dikurbankan. Muncul pertanyaan bagaimana apabila ingin berqurban dengan kerbau? terlebih di beberapa daerah di Indonesia jumlah kerbau cukup banyak Jawabannya: boleh dan sah berkurban dengan kerbau karena kerbau sejenis dan mirip dengan sapi 3- Bahimatul an’am adalah unta, sapi dan kambing. Beberapa ulama menyamakan antara sapi dan kerbau.Al-Fayumi berkata,
الجاموس : نوع من البقر
“Di antara jenis sapi adalah kerbau.” [Al-Mihbah Al-Munir 1/108] 4- Bahkan ada klaim ijma; bahwa kerbau itu sebagaimana hukum sapi yaitu termasuk bahimatul an’am. Ibnu Mundzir berkata,
و أجمعوا على أن حكم الجواميس حكم البقر
“Para ulama bersepakat bahwa hukum kerbau sebagaimana hukum sapi.” [Al-Ijma’ hal. 52] Syaikh Muhammad bins Shalih Al-‘Utsaimin juga menjelaskan demikian, beliau berkata:
الجاموس نوع من البقر، والله عز وجل ذكر في القرآن المعروف عند العرب الذين يُحرّمون ما يريدون، ويبيحون ما يريدون، والجاموس ليس معروفًا عند العرب.
“Kerbau merupakan jenis sapi. Allah menyebutkan dalam Al-Quran hewan-hewan yang telah dikenal oleh bangsa Arab yang mereka diharamkan dan mereka diperbolehkan. Kerbau memang tidak dikenal oleh bangsa Arab.” [Liqa’ Babil Maftuh 200/27] 5- Secara ilmu taksonomi kerbau dan sapi juga berdekatan yaitu sama-sama berasal dari subfamilia yang subfamilia Bovinae, hanya berbeda genus saja. Kerbau dan sapi memiliki hukum yang sama, kerbau juga bisa untuk tujuh orang sebagaimana sapi.
Tema hadist yang berkaitan dengan al quran :
Hewan yang boleh untuk dijadikan qurban adalah binatang ternak yaitu unta, sapi, kerbau, domba serta kambing. Dalilnya adalah firman Allah :
“Dan bagi setiap umat, Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak .” (Qs. al-Hajj: 34).(Sumber : Oleh Ustadz Muslih Rosyid)
HADIRILAH GELISAN (GERAKAN MENULIS AL QUR’AN) BAITULMAAL FATIMAH FIKRUL AKBAR PEDULI 📖 Acara Pelatihan Menulis Al Qur’an, serta pengenalan program air bersih mandiri & listrik untuk Masyarakat.
-Tenaga pengajar,Jurusan Desain Engineering PMS-ITB -Owner PT.Buatan Guna Indonesia
Owner PT. Catur Reka Pilarindo
Pendiri,Penggiat dan Relawan di Yayasan PIlar Peradab
Pengurus ICMI Pusat
PENGHARGAAN :
Pahlawan untuk Indonesia 2017 versi MNC Group.
Mitsubitsi Award Internasional 2017
🕌 TEMPAT : MASJIDFATIMAH BABELAN KOTA https://maps.app.goo.gl/eAdTAtx6RmnWNRBn8?g_st=aw Jazaakumullahu Khairan.katsiro.
📅 WAKTU : SENIN 19 Mei 2025 12.15 – 14.00 WIB
CP : 0813 8354 2001 By : p2ekomas.fikrulakbar.org P2EKOTREN P2EKODES baitulmaalfatimah.id fikrulakbar.org lpk.fikrulakbar.org TKIT-TAUD-SD-SMP FIKRUL AKBAR ISLAMIC SCHOOL (FAIS) ASOFA MART FAIS MART KLINIK SEHAT ASOFA ASOFA PEDULI DKM FATIMAH FA TRANING & BUSINESS CENTER ASOFA BUILDING BUMM FATIAMAH FA
عن أبي بكره رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
Dari Abu Bakrah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari & Muslim)
Sebab dan alasan bulan Dzulqadah termasuk bulan haram
Bulan DZulqa’dah merupakan bulan pertama dari rangkaian bulan haram. Sebab disucikan dan diharamkannya tumpah darah pada bulan ini adalah karena pada zaman jahiliyah, mereka mulai berjalan dan berpergian menuju tanah Makkah untuk berhaji pada bulan Dzulqodah. Agar perjalanan yang mereka lakukan menjadi aman dan tenteram dari gangguan para perompak. Oleh karenanya, Allah Ta’ala berfirman,
فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Para ulama mengatakan, “Larangan ini berlaku sepanjang tahun. Hanya saja di 4 bulan haram ini, larangannya lebih ditekankan lagi, dan dosa di dalamnya Allah jadikan lebih besar. Begitu pula dengan amal saleh, pahalanya juga lebih besar”.(Sumber: muslim.or.id)
SISWA SD FIKRUL AKBAR ISLAMIC SCHOOL SELEPAS SHOLAT BERJAMAAH DAN MEMBERBANYAK DZIKIR DI MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR
Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:
1- Dalam hadits ini, telah menerangkan bulan-bulan dalam syariat Islam yang berjumlah dua belas bulan, empat bulan haram(suci) diantaranya adalah bulan Dzulqa’dah ’.
2- Dzulqa’dah yang bertepatan dengan bulan Mei . Terdapat sejumlah amalan dan keutamaan bulan Dzulqa’dah atau dikenal juga dengan bulan Dzulqa’dah.
3- Bulan ke-11 dalam penanggalan Islam ini termasuk merupakan waktu yang dimuliakan oleh Allah. Bulan ini kerap terlupakan oleh banyak orang karena hampir tak ada momen yang kerap dirayakan umat Islam.
4- Namun, inilah yang justru menjadi kelebihan bulan Dzulqa’dah. Keutamaan bulan Dzulqa’dah yang paling utama adalah bulan yang termasuk dalam bulan haram.
5- Dzulqa’dah merupakan satu dari empat bulan yang termasuk dalam bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Tiga bulan mulia lainnya adalah bulan Muharam, Rajab, dan Dzulhijah.
6- Amalan yang dilipatgandakan Allah menjanjikan setiap amalan yang dilakukan pada bulan yang mulia bakal dilipatgandakan.
7- Kebanyakan kaum muslimin terlupa melakukan kebaikan amal saleh di bulan Dzulqa’dah, dibandingkan bulan Dzulhijjah yang ada ibadah haji, Muharam ada peringatan tahun baru Islam, atau Rajab banyak momen penting. Padahal, barang siapa yang melaksanakan amalan shaleh di bulan haram pahalanya bakal dilipat gandakan.
8- Dosa yang juga dilipatgandakan Saat amalan baik dilipatgandakan, sebaliknya dosa juga bakal dilipatgandakan. Sesuai surat At-Taubah ayat 36, pada bulan yang dimuliakan Allah, umat Islam juga dilarang untuk menganiaya diri sendiri.
9- Ancamannya juga luar biasa. Melakukan dosa di bulan haram itu dosanya menjadi berlipat. Jangan menzalimi diri, kezaliman di bulan haram lebih parah dosanya, maka hati-hati, maksiat, syirik, ria, gibah, korupsi dan sebagainya sangat berbahaya.
10- Oleh karena itu umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak melakukan amal soleh sepanjang bulan Dzulqa’dah ini.
PERBANYAK AMAL JARIAH DENGAN PROGRAM BEASISWA BAGI SISWA SD FIKRUL AKBAR ISLAMIC SCHOOL DARI BAITULMAAL MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR
Berikut amalan pada bulan Dzulqa’dah .
Memperbanyak ibadah puasa Umat Islam dapat memperbanyak ibadah puasa di bulan Dzulqa’dah. Puasa yang dapat dilakukan adalah puasa sunah Senin Kamis, puasa Daud, dan puasa Ayyamul Bidh.
Memperbanyak salat sunah. Perbanyak pula amalan salat sunah seperti salat malam, salat dhuha, salat taubat dan sebagainya.
Memperbanyak zikir Mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dengan berzikir juga sangat dianjurkan di bulan Dzulqa’dah.
Berlaku baik Perbanyak amal saleh dengan berlaku baik kepada orang lain. Bersedekah, berlaku baik pada orang tua, keluarga, kasih sayang pada suami, istri, dan anak-anak itu akan berlipat ganda.
MEMANFAATKAN KEBERADAAN BULAN DZUL-QOIDAH DENGAN KEGIATAN MAJLIS TALIM DI RUMAH BAITULMAAL MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR.
Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:
1- Allah telah menerangkan bulan-bulan dalam syariat Islam yang berjumlah dua belas bulan, empat diantaranya adalah bulan haram
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu dan perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya; dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. ( QS. At-Taubah: 36)(Sumber :Ustadz Muslih Rosyid)
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ Artinya: Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).
Firman Allah: (dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) (99)) Iamam Bukhari berkata, Salim berkata, bahwa maknanya adalah kematian. dan Salim di sini adalah Salim bin Abdullah bin Umar. Ayat ini yaitu (dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) (99)) digunakan sebagai dalil bahwa ibadah seperti shalat dan sejenisnya itu wajib bagi semua manusia selagi akalnya sehat dan normal, maka dia mengerjakannya sesuai dengan kondisinya, Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih Bukhari, dari Imran bin Hushain bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Shalatlah sambil berdiri; dan jika kamu tidak mampu, maka dengan duduk. Dan jika kamu tidak mampu , maka dengan berbaring pada lambung” Referensi : https://tafsirweb.com/4249-surat-al-hijr-ayat-99.html
PELAYANAN UMMAT HINGGA KE PEMAKAMAN BERSAMA DIVISI SOSIAL MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR
Rasulullah ﷺ tidak menjadikan ibadah pada batas tertentu sebelum kematian datang menjemput.
Rasulullah ﷺ hidupnya adalah ibadah di semua sisi, dan beliau istiqamah, kontinyu, dan melakukan kebiasan beramal shalih.
“Wahai sekalian manusia, beramalah menurut yang kalian sanggupi, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan, sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara kontinyu walaupun sedikit.” (HR Bukhari)
Dari Aisyah radhiyallahu ànha, beliau menjelaskan salah satu kebiasan Rasulullah ﷺ,
وَكَانَ نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ إِذَا صَلَّى صَلَاةً أَحَبَّ أَنْ يُدَاوِمَ عَلَيْهَا وَكَانَ إِذَا غَلَبَهُ نَوْمٌ أَوْ وَجَعٌ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ صَلَّى مِنْ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً “Jika Rasulullah ﷺ mengerjakan shalat, maka beliau suka dikerjakan secara terus menerus (kontinyu). Jika beliau ketiduran atau sedang sakit sehingga tidak dapat melakukannya di malam hari, maka beliau shalat di waktu siangnya sebanyak dua belas rakaat.” (HR Muslim)
“Rasulullah tidak meninggal hingga kebanyakan shalat yang beliau laksanakan adalah dengan keadaan duduk. Amal yang paling beliau sukai adalah yang terus-menerus meskipun ringan.” (HR Ibnu Hibban)
KENALKAN TERUS MENERUS SHOLAT BERJAMAAH DI MASJID BAGI SISWA SD FIKRUL AKBAR ISLAMIC SCHOOL- BEKASI
Ibnu Rajab berkata, “Membalas nikmat taufik yang diberikan Allah sehingga bisa berpiasa Ramadhan dengan melakukan kemaksiatan setelahnya adalah termasuk perbuatan orang yang mengganti kenikmatan Allah dengan kekufuran. Dan apabila ketika berpuasa ia bertekad untuk mengulangi kemaksiatan setelah selesai berpuasa, maka ia ditolak dan pintu rahmat tertutup baginya.” (Lathaiful Ma`arif)
Ibnu Qayyim berkata, “Aku mendengar syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah berkata, ‘Jika kamu tidak menemukan kenikmatan dan keluasan di dalam kalbumu ketika beramal, maka curigailah kalbumu. Karena sesungguhnya Allah itu Syakuur, yakni Allah itu pasti akan memberikan pahala orang yang beramal atas amalannya ketika di dunia seperti merasakan kenikmatan, kegembiraan, dan kesenangan di dalam kalbu. Jika seseorang tidak menemukan hal tersebut maka amalannya madkhuul (dimasukkan). Yakni, merasa gembira dan dekat dengan Allah akan menambah ketaatan dan mendorong seseorang untuk bertambah giat dalam meniti jalan kepada-Nya.” (Asmaaullahil husna wa shifaatihil ula)
لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur’an Univ Islam Madinah
Diriwayatkan ari Amr bin Maimun, tentang (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan) Dia berkata, “Kebajikan itu adalah surga” Diriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah mendengar Anas bin Malik, dia berkata, “Abu Thalhah adalah salah satu kaum Anshar yang paling kaya di Madinah. Hartanya yang paling dia cintai adalah kebun kurma Bairuha’ yang berada di depan masjid. Nabi SAW sering masuk ke kebun itu dan minum air yang ada di sana. Anas berkara, ketika turun ayat: (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai) Abu Thalhah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai) dan harta yang paling aku cintai adalah kebun kurma Bairuha’, ini adalah sedekah untuk Allah. Aku berharap agar kebun ini menjadi amal kebajikan di sisi Allah. Tempatkanlah kebun ini, wahai Rasulullah, sesuai dengan kehendak Allah.” Lalu Nabi SAW bersabda, “Itu benar, itu adalah harta yang menguntungkan.” Aku telah mendengar “Aku melihat kamu memberikannya kepada kerabat” Lalu Abu Thalhah berkata “Aku akan melakukannya, wahai Rasulullah” Lalu Abu Thalhah membaginya kepada kerabatnya dan sepupunya. Referensi : https://tafsirweb.com/1224-surat-ali-imran-ayat-92.html
PENYALURAN ZAKAT MAAL UNTUK PEMBERDAYAAN EKONOMI UMMAT OLEH AMIL BAITULMAAL MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR DI GEROBAK USAHA IBU MAJLIS TALIM MASJID AL-FATIHAH- KOTA BEKASI.
Pemberdayaan merupakan proses, cara dan upaya untuk menjadikan orang lain memiliki daya, kemampuan atau kekuatan. Secara istilah pemberdayaan merupakan upaya membangun daya yang dimiliki duafa atau orang lemah dengan cara menggerakkan, memberikan motivasi dan meningkatkan kesadaran tentang potensi yang dimilikinya, serta berupaya untuk mengembangkannya.
Ada juga yang memahami pemberdayaan umat sebagai upaya dalam penyediaan sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan bagi umat untuk menumbuhkan dan meningkatkan kapasitas mereka, sehingga dapat menemukan masa depannya yang lebih baik. Pemberdayaan Umat diartikan sebagai sebuah upaya untuk mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih baik, sehingga kualitas dan kesejahteraan hidupnya secara perlahan juga akan meningkat.
Berkaitan dengan masalah tersebut, kemiskinan dapat diatasi dengan memberdayakan ekonomi yang merupakan solusi yang diberikan Alquran, salah satu pemberadayaan umat yaitu dengan berinfak. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran 92 Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Pemberdayaan merupakan salah satu visi misi Alquran untuk menjelaskan kepada manusia bahwa Alquran terus berlaku di mana pun dan kapan pun sampai akhir zaman. Pemberdayaan merupakan suatu bentuk cara, proses dan upaya untuk menjadikan pihak lain mempunyai daya atau kekuatan.3 Yakni suatu proses yang berjalan terus-menerus untuk membangun ataupun meningkatkan kemampuan masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya, upaya tersebut hanya dapat dilakukan dengan menumbuhkan dan membangkitkan keberdayaan mereka.
PENYALURAN BAITUL MAAL MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR KE SALAH SATU 8 ASNAF JAMAAAH MASJID AL-FATIHAH – KOTA BEKASI
Masjid visioner adalah masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki visi jangka panjang dalam pemberdayaan umat dan pembangunan peradaban Islam. Masjid ini dikelola dengan profesionalisme, inovasi, dan kepedulian sosial, sehingga mampu menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, ekonomi, dan sosial bagi masyarakat sekitar.
Ciri-ciri Masjid Visioner:
Berorientasi pada Pemberdayaan Umat Masjid tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga pusat pendidikan, ekonomi, dan sosial. Mengadakan program-program pelatihan keterampilan, bimbingan belajar, serta kajian keislaman yang mendalam.
Memiliki Manajemen yang Baik. Dikelola secara profesional dengan struktur kepengurusan yang jelas. Transparansi dalam pengelolaan dana dan aset masjid. Memanfaatkan teknologi dalam administrasi dan komunikasi dengan jamaah.
Mandiri Secara Ekonomi Memiliki sumber pendanaan yang berkelanjutan, seperti unit usaha berbasis syariah.
Mengembangkan koperasi, minimarket, atau usaha lain yang bermanfaat bagi umat. SEMOGA BERMANFAAT DAN BERKAH SELALOE
PEMBERDAYAAN UMAT MELALUI PELATIHAN PERTANIAN DI P2EKOMAS MASJID FATIMAH FIKRUL AKBAR
وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا Artinya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur’an Univ Islam Madinah
Firman Allah SWT: (Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir) yaitu mereka tidak menghambur-hamburkan hartanya dalam berinfak lebih dari apa yang diperlukan, tidak pula kikir terhadap keluarganya yang mengurangi hak keluarga, sehingga tidak bisa mencukupinya. Tetapi mereka membelanjakan hartanya dengan seimbang, dengan penuh pilihan. Sebaik-baik perkara adalah yang dilakukan secara pertengahan, tidak berlebih-lebihan dan tidak kikir (dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian) Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan jangan (pula) engkau mengulurkannya secara berlebihan sebab nanti engkau menjadi tercela lagi menyesal (29)) (Surah Al-Isra’) Hasan Al-Bahsri berkata bahwa membelanjakan harta dijalan Allah tidak ada batas berlebih-lebihan. Iyas bin Mu’awiyah berkata bahwa hal yang melampaui perintah Allah SWT adalah perbuatan berlebih-lebihan.
IDUL FITRI MOMENT SILATURAHMI SEKALIGUS HARI BERGEMBIRANYA KAUM MUSLIMIN.FOTO SAAT BERSAMA KELUARGA BESAR UST. HUSEIN GAZA ( INTERNATIONAL NETWORKING FOR HUMANITARIAN)
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Idul Fitri adalah hari dimana kalian berbuka, dan Idul Adha adalah hari dimana kalian berkurban.” (HR. Ibnu Majah)
Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:
1- Idul Fitri diterjemahkan dengan kembali kepada fitrah, karena telah ditempa dengan ibadah sebulan penuh di bulan Ramadhan.
2- Idul Fitri diterjemahkan dengan hari raya berbuka, dimana setelah sebulan penuh ia berpuasa, menjalan ibadah puasa karena Allah Subhanahu wata’ala, pada hari Idul Fitri ia berbuka dan tidak berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala.
3- Sehingga Idul Fitri adalah hari raya umat Islam yang dianugerahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala di mana insan dikembalikan pada fitrahnya dengan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wata’ala, sekaligus sebagai hari bergembiranya kaum muslimin dimana diperintahkan untuk makan dan minum.
BERBAGI DISAAT IDUL FITRI 1446 H DENGAN SAUDARA KITA DI GAZA PALESTINA
Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:
1- Seringkali pada saat hari raya Idul Fitri, karena begitu banyaknya makanan yang relatif istimewa, kita lupa dengan ‘kapasitas’ perut kita, sehingga terlalu banyak mengkonsumsi makanan. Baik makan besar maupun makan kecil. Sementara Allah Subhanahu wata’ala telah mengingatkan kita :
Dan makan dan minumlah kalian, tapi janganlah kalian berlebih-lebihan. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf 31)
2- Pakaian yang bagus dan indah yang memang disunnahkan untuk dikenakan pada hari raya Idul Fitri, menjadikan kita terjebak pada sifat berlebihan dalam berpakaian ataupun berdandan, sehingga terkadang ‘aurat’ tidak terjaga, atau berpakaian terlalu ketat, atau juga terlalu menyolok (tabarruj). Sehingga dosa-dosa yang telah terampuni kembali masuk dalam diri kita. Oleh karenanya, sebaiknya dalam berpakaian tidak melanggar batasan-batasan syar’I, baik bagi pria maupun wanita. وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُولَى
“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab 33)
3- Idul Fitri juga sering menjadi ajang untuk menghambur-hamburkan uang pada sesuatu yang ‘manfaatnya’ kurang. Kecuali jika dalam rangka untuk memberikan santunan kepada kerabat keluarga yang membutuhkan, namun itupun juga tidak boleh berlebih-lebihan. Dalam Al-Qur’an Allah mengatakan :
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Al-Furqan 67).
Kami mengucapkan Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1446 H
Mohon maaf lahir dan batin
Eid Mubarak تقبل الله منا ومنكم صيامنا و صيامكم أعمالنا واعمالكم تقبل ياكريم فى كل عام وانتم بخير
Semoga kita semakin bertaqwa kepada-Nya…… aamiin.
Kullu aam waantum bi khair ( Sumber :Oleh Ustadz Muslih Rosyid)
Di dalam Al-Quran, perintah shalat sering kali disandingkan dengan perintah zakat. Ada 30 kali penyebutan kata zakat di dalam Al-Quran dan 28 kalinya disandingkan dengan kata shalat. Banyaknya pengulangan ini menunjukkan bahwa
:1. shalat dan zakat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam bangunan Islam 2. Adanya korelasi (hubungan) antara ibadah sholat dan zakat 3. Seutama-utamanya ibadahniyah adalah sholat dan paling utama ibadah maliiyah adalah sholat. 4. Sehngga meninggalkan perintah zakat sama hukumnya meninggalkan sholat.
Jika ditilik secara mendalam, ada banyak dalil zakat dalam Al-Qur’an yang beriringan dengan sholat sebagaimana terdapat dalam FirmanNya sebagai berikut:
“[Ingatlah] ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Akan tetapi, kamu berpaling [mengingkarinya], kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu [masih menjadi] pembangkang.”
“Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu akan kamu dapatkan [pahalanya] di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah [kebajikan] orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan [memerdekakan] hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal saleh, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak [pula] mereka bersedih.
“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ‘Tahanlah tanganmu [dari berperang], tegakkanlah salat, dan tunaikanlah zakat!’ Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba segolongan mereka [munafik] takut kepada manusia [musuh] seperti ketakutan mereka kepada Allah, bahkan lebih takut daripada itu. Mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan [kewajiban berperang] kepada kami beberapa waktu lagi?’ Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanyalah sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dizalimi sedikitpun
“Akan tetapi, orang-orang yang ilmunya mendalam di antara mereka dan orang-orang mukmin beriman pada [Al-Qur’an] yang diturunkan kepadamu [Nabi Muhammad] dan pada [kitab-kitab] yang diturunkan sebelummu. [Begitu pula] mereka yang melaksanakan salat, yang menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah serta hari Akhir. Kepada mereka akan Kami berikan pahala yang besar.”
“Sungguh, Allah benar-benar telah mengambil perjanjian dengan Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka. Allah berfirman, ‘Aku bersamamu. Sungguh, jika kamu mendirikan salat, menunaikan zakat, beriman kepada rasul-rasul-Ku dan membantu mereka, serta kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, pasti akan Aku hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Aku masukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Maka, siapa yang kufur di antaramu setelah itu, sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus.’”
“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang menegakkan salat dan menunaikan zakat seraya tunduk [kepada Allah].”
“Tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sesungguhnya kami kembali [bertobat] kepada Engkau. [Allah] berfirman, ‘Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa dan menunaikan zakat serta bagi orang-orang yang beriman pada ayat-ayat Kami.’”
“Apabila bulan-bulan haram telah berlalu, bunuhlah [dalam peperangan] orang-orang musyrik [yang selama ini menganiaya kamu] di mana saja kamu temui! Tangkaplah dan kepunglah mereka serta awasilah di setiap tempat pengintaian! Jika mereka bertobat dan melaksanakan salat serta menunaikan zakat, berilah mereka kebebasan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
“Jika mereka bertobat, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, mereka adalah saudara-saudaramu seagama. Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.”
“Sesungguhnya yang [pantas] memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut [kepada siapa pun] selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya [mualaf], untuk [memerdekakan] para hamba sahaya, untuk [membebaskan] orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan [yang memerlukan pertolongan], sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
“Orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh [berbuat] makruf dan mencegah [berbuat] mungkar, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
“Kami menjadikan mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk atas perintah Kami dan Kami mewahyukan kepada mereka [perintah] berbuat kebaikan, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, serta hanya kepada Kami mereka menyembah.”
“[Yaitu] orang-orang yang jika Kami beri kemantapan [hidup] di bumi, mereka menegakkan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.”
“Berjuanglah kamu pada [jalan] Allah dengan sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama. [Ikutilah] agama nenek moyangmu, yaitu Ibrahim. Dia [Allah] telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan [begitu pula] dalam [kitab] ini [Al-Qur’an] agar Rasul [Nabi Muhammad] menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah pada [ajaran] Allah. Dia adalah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”
“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang [hari Kiamat].”
“Tetaplah [tinggal] di rumah-rumahmu dan janganlah berhias [dan bertingkah laku] seperti orang-orang jahiliah dahulu. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
“Apakah kamu takut [menjadi miskin] jika mengeluarkan sedekah sebelum [melakukan] pembicaraan rahasia dengan Rasul? Jika kamu tidak melakukannya dan Allah mengampunimu, tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau [Nabi Muhammad] berdiri [salat] kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan [demikian pula] segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menghitungnya [secara terperinci waktu-waktu tersebut sehingga menyulitkanmu dalam melaksanakan salat malam]. Maka, Dia kembali [memberi keringanan] kepadamu. Oleh karena itu, bacalah [ayat]Al-Qur’an yang mudah [bagimu]. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah serta yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah [bagimu] darinya [Al-Qur’an]. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh [balasan]-nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif [istikamah], melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus [benar].”
ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ Artinya: Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur’an Univ Islam Madinah
Allah SWT memberikan petunjuk kepada hamba-hambaNya agar mereka berdoa kepadaNya yang merupakan kebaikan bagi dunia dan akhirat mereka. Lalu Allah SWT berfirman: (Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan merendahkan diri dan suara yang lembut) Dikatakan bahwa maknanya adalah dengan merendahkan diri, tunduk, dan dengan lemah lembut. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai
(205)) (Surah Al-A’raf) dan disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari, dia berkata,”Orang-orang meninggikan suaranya ketika berdoa. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian tidaklah berdoa kepada Tuhan yang tuli dan tidak pula yang tidak ada, sesungguhnya Tuhan yang kalian mintai doa itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat” Ibnu Jarir berkata tentang makna (tadharru’) adalah merendahkan diri dan tenang dalam ketaatan kepadaNya dan (wa khufyah) dia berkata dengan hati yang tunduk, dan yakin pada Keesaan dan KetuhananNya dalam sesuatu antara kalian dan Dia, dan tidak pula dengan suara yang keras dan riya’.
Ibnu Juraij berkata bahwa meninggikan suara, berseru, dan menjerit dalam berdoa itu makruh. Hal yang diperintahkan adalah dengan merendahkan diri dan tunduk. Kemudian dia meriwayatkan dari ‘Atha’ dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (55)) yaitu dalam berdoa dan dalam hal lain. Referensi : https://tafsirweb.com/2509-surat-al-araf-ayat-55.html
Do’a Orang yang Berpuasa Diijaba Allah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ ” رواه الترمذي (2525) وصححه الألباني في صحيح الترمذي (2050)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, “Tiga kelompok yang tidak akan ditolak do’anya: Orang yang berpuasa sampai ia berbuka. Pemimpin yang adil. Dan do’a orang yang teraniaya. Allah menyibak awan dan membuka pintu-pintu langit seraya berfirman: “Demi kemulian-Ku dan keagungan-Ku, pasti Aku tolong kamu, walau setelah beberapa waktu.” (Hr.Ahmad dan At Tirmidzi)
Pelajaran yang terdapat dalam hadits:
1- Doa adalah perwujudan rasa cinta seorang hamba kepada Allah Subhanahu Wata’ala sekaligus pengakuan akan kebutuhan dan pertolongan-Nya. Hakikat doa sebenarnya juga meminta kekuatan dan kesanggupan dari Allah Subhanahu Wata’ala Dalam doa ada makna memuji Allah Subhanahu Wata’ala ada pengakuan bahwa Allah Maha Mulia lagi Maha Pemurah. Itu semua menjadi ciri pengabdian dan penghambaan.
2- Doa adalah ibadah.
3- Putusan atau qodha’ Allah tidak bisa ditolak kecuali dengan doa
لا يرد القضاء إلا الدعاء ولا يزيد في العمر إلا البر
“Putusan atau qadha’ Allah tidak bisa ditolak kecuali dengan doa. Dan sesuatu tidak akan menambah umur kecuali kebaikan.
4- Do’a orang-orang yang bepuasa, do’a yang diijabah. Maka jangan disia- siakan.
Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran:
1- Ramadhan adalah syahrud du’aa’, bulan berdo’a-. Sehingga rangkaian ayat-ayat shaum yang panjang itu, disisipi seruan untuk berdo’a.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al-Baqarah :186)
2- Berdo’alah, Alloh akan mengabulkannya. Secara umum Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdo’a, memohon dan memelas kepada-Nya. Alloh juga telah menjanjikan akan mengabulkan permohonan hamba tersebut.
“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60).
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Araf:55.).
Artinya: Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ Artinya: Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur’an Univ Islam Madinah
Kemudian Allah SWT berfirman: (Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri (22)) dari kata “an-nadharah” yaitu bagus, cerah, bersinar, dan gembira (Kepada Tuhannyalah mereka melihat (23)) yaitu melihat Tuhannya dengan terang-terangan, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam hadits shahihnya:”Sesungguhnya kamu kelak akan melihat Tuhanmu dengan terang-terangan” Dan sungguh terkait melihatnya orang-orang mukmin kepada Allah SWT di akhirat telah disebutkan hadits-hadits shahih dari berbagai jalur yang mutawatir, yang telah dinukil oleh para imam hadits, sehingga tidak mungkin ditolak atau dicegah kebenarannya. Hadits dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah yang keduanya ada dalam hadits shahih Bukhari Muslim bahwa sejumlah orang bertanya,”Wahai Rasulullah, apakah kita dapat melihat Tuhan kita pada hari kiamat?” Rasulullah SAW bertanya:”Apakah kalian berdesak-desakan saat melihat matahari dan bulan di hari yang tak berawan?” Mereka menjawab, “Tidak” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian seperti itu” Hal ini dengan memuji Allah telah menjadi kesepakatan di antara para sahabat, tabi’in, dan ulama’ Salaf dari umat ini, sebagaimana hal ini telah disepakati di kalangan para imam Islam dan para ulama pemberi petunjuk manusia. Orang yang menakwilkan kata “ila” sebagai bentuk tunggal dari “Al-ala’” yaitu nikmat-nikmat, seperti yang dikatakan Ats-Tsauri, dari Manshur, dari Mujahid tentang firmanNya: (Kepada Tuhannyalah mereka melihat (23)) dia berkata, “menunggu pahala dari Tuhan ” Maka sesungguhnya pendapat ini menjauhkan keraguan dan membatahkan argumen yang disampaikan. Lalu bagaimanakah jawaban orang yang berpendapat demikian dengan adanya firman Allah SWT: (Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka (15)) (Surah Al-Muthaffifin) Imam Syafii berkata bahwa tidaklah orang-orang durhaka dihalangi dari melihat Tuhan mereka, melainkan karena diketahui bahwa orang-orang yang baik dapat melihat Tuhan mereka. Kemudian banyak juga pemberitahuan-pemberitahuan dari Rasulullah SAW secara mutawatir menunjukkan pengertian yang sama dengan konteks ayat yang mulia, yaitu firmanNya SWT: (Kepada Tuhannyalah mereka melihat (23)) Referensi : https://tafsirweb.com/11670-surat-al-qiyamah-ayat-22.23
SUASANA JAMAAH SHOLAT TARAWIH DI MASJID FATIMAH FIKRUL AKABAR AWAL ROMADHON 1447 H
Kebahagiaan Orang yang Berpuasa
عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال، قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُ بِهِمَا فَرْحَةٌ عِنْدَ إفْطَارِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ}.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Bagi orang yang berpuasa itu dua kebahagiaan, ia berbahagia ketika berbukanya dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya.” Hadis ini sama dengan hadist sebelumnya yang merupakan penggalan hadis yang diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah. Hanya saja, imam As-Suyuthi menyebutkannya dengan riwayat bilmakna.
Pelajaran yang terdapat didalam hadist:
1- Bahwa maksud kebahagiaan orang yang berpuasa saat berbuka adalah dengan hilangnya rasa lapar dan dahaga ketika diperbolehkan baginya berbuka.
2- Dikatakan pula bahwa kebahagiaannya saat berbuka adalah ia telah menyempurnakan puasanya, menyelesaikan ibadahnya, diringankan (untuk beribadah) dari Tuhannya, dan mendapatkan pertolongan untuk puasa yang akan datang.
3- Sementara itu, maksud dari kebahagiaan saat bertemu Tuhannya adalah ketika di hari Kiamat kelak, yakni dengan memperoleh balasan (nikmat) dan pahala atau dengan melihat wajah Tuhannya.
Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur’an :
Di akhirat nanti orang mukmin yang berpuasa melihat Tuhannya dengan jelas.
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat (Al-Qiyamah: 22-23).(sumber : Oleh Ustadz Muslih Rosyid )
قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى Artinya: Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
TAUD-TKI-SD-SMP FIKRUL AKBAR DI ACARA ROMADHON BERBAGI 1447 H BAGI DHUAFA SEKITAR KAMPUNG ASEM BEBELAN BEKASI SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN DALAM MENANAMKAN KEBAIKAN
Allah SWT berfirman seraya memerintahkan kepada para hambaNya yang beriman untuk terus taat dan bertakwa kepadaNya: (Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan) yaitu bagi orang yang mengerjakan amal baik di dunia ini, pahala kebaikan baginya di dunia dan akhirat. Firman Allah SWT: (Dan bumi Allah itu adalah luas) Mujahid berkata,”Maka berhijrahlah padanya, berjihad dan pisahkanlah diri kalian dari berhala-berhala. Diriwayatkan dari ‘Atha’ tentang firman Allah SWT: (Dan bumi Allah itu adalah luas) dia berkata,”Apabila kalian diajak untuk melakukan perbuatan durhaka, maka larilah. Kemudian dia membaca firmanNya: (Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu) (Surah An-Nisa: 97) As-Suddi berkata tentang firmanNya: (Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas) yaitu di surga Referensi : https://tafsirweb.com/8672-surat-az-zumar-ayat-10.html
Ramadhan Adalah Bulan Pendidikan Kesabaran
عن أبي قتادة رضي اللَّه عنه قال، قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ))
Dari Abu Qatadah radhiyallahu anhu berkata, berkata rasulullah shallallahu alaihi wasallam : “Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan adalah puasa sepanjang tahun”. [Musnad Imam Ahmad (7567، 8965) dan Imam Muslim (1162), dan ini lafadz riwayat Imam Ahmad].
PENYALURAN BINGKISAN ROMADHON 1447 H LANGSUNG DI LAKUKAN OLEH MURID FIKRUL AKBAR ISLAMIC SCHOOL KE MASYARAKAT MENUMBUHKAN RASA PEDULI SESAMA DI USIA DINI
Pelajaran yang terdapat didalam hadist:
1- Adalah sebuah anugerah yang besar ketika seorang hamba menjumpai bulan Ramadhan yang diberkahi ini, karena ia akan memetik sekian banyak faedah yang besar jika ia benar-benar memanfaatkan bulan yang agung ini untuk beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya.
2- Diantara faedah yang besar itu adalah diraihnya KESABARAN, baik dalam melakukan ketaatan kepada Allah, menjauhi kemaksiatan maupun didalam menghadapi taqdir Allah yang terasa berat dirasa oleh seorang hamba.
3- Ketiga hal ini -yang mengumpulkan seluruh ajaran agama Islam ini- tidaklah bisa terlaksana kecuali dengan kesabaran.
4- Sesungguhnya kesabaran adalah asas yang terbesar bagi setiap akhlak yang indah dan bagi upaya menghindari akhlak yang hina. Dan sabar itu adalah menahan diri dari perkara yang tidak disukai oleh hawa nafsu dan menyelisihi seleranya, dalam rangka meraih ridho Allah dan pahalanya.
5- Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah madrasah yang agung dan bangunan (keimanan) yang tinggi, yang para hamba mengambil darinya banyak ibroh dan pelajaran bermanfaat yang mendidik jiwa dan meluruskannya pada bulan Ramadhan ini dan di sisa umurnya. Dan salah satu (pelajaran besar) yang diambil oleh orang-orang yang berpuasa di bulan yang agung dan musim yang diberkahi ini adalah membiasakan diri dan membawanya kepada kesabaran, oleh karena itu , terdapat dalam beberapa Hadits, (bahwa) Nabi yang sangat penyayang –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mensifati bulan Ramadhan dengan “bulan kesabaran”.
Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur’an :
1- Yakni Aku akan memberikan pahala yang banyak kepada orang yang sabar tanpa menentukan kadarnya.
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (Az-Zumar: 10)
2- Perintah ini tidak dapat diterima, tidak dapat pula diamalkan kecuali hanyalah oleh orang yang sabar dalam menjalaninya, obyek sabar: sabar dalam ketaatan, sabar tidak berbuat maksiat, sabar didalam menghadapi taqdir Allah yang terasa berat dirasa oleh seorang hamba. Karena sesungguhnya hal ini amat berat pengamalannya.
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fussilat:35).(Sumber : Oleh Ustadz Muslih Rosyid)